Tasikmalaya- Hasil investigasi media ini dan media Tribun Tipikor tertanggal 23 April 2024 di Desa Karangtengah, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Tasikmalaya terjadi penutupan akses jalan oleh Forum Masyarakat Desa Karanglayung yang diketuai berinisial H.
Demontrasi yang dipimpin H terjadi pada hari selasa 16 April 2024 percis di pintu keluar mobilisasi batu dekat Gunung Pangajar yang menuntut legalitas analisa dampak lingkungan ( AMDAL) dan sekaligus melarang aktivitas mobilasasi pengangkutan batu dari Gunung Pangajar ke proyek Bendungan Leuwi keris.
Gunung Pangajar yang lokasinya berada di wilayah Bendungan Lewikweris selama ini pihak pemenang pembangunan Bendungan menggunakan batu dari Gunung Pangajar yang jumlah tonasenya ribuan kubik. Sebagai Mitra kerja pemenang tender menggunakan jasa pengangkutan atau mobilisasi ditunjuk PT DUTA LAKSANA SATYA.
” Demo kemarin ada mungkin Polisi 150 Orang, sedangkan jumlah Forum atau warga ada sekitar 30 Orang yang demo kan di depan warung saya ini, hanya saya tidak tau apa yang dituntut demo itu” Kata warga pemilik warung.
Akibat demontrasi tersebut 14 truk PT DUTA LAKSANA SATYA yang beralamat di Jl. Kramat No. 30 A Kabupaten Batang sebagai Mitra penyedia jasa pemenang tender PT PEMBANGUNAN PERUMAHAN ( Persero) berhenti selama 10 hari.
” Kami sudah menganggur selama seminggu pa, kasihan anak-anak kami di rumah, kalau hanya mengandalkan gaji pokok tidak mencukupi kebutuhan dirumah, sedangkan kami tidak tau persoalannya seperti apa. Biasanya kami dalam satu hari bisa mengantara batu dari Gunung Mengajar ini sampai ke Proyek Bendung 5 rit dalam satu hari dan kami dikasih tambahan gaji dari pihak perusahaan ( DLS) Rp 75.000.000 per ritasenya, dampak dari demo minggu kemarin kami jadi pengangguran” Kata salah satu supir Tronton yang tidak mau disebut jatidirinya.
Pengangkutan batu dari Gunung Mengajar ke Proyek bendung Leuwi keris bukan hanya diangkut armada PT DUTA LAKSANA SATYA masih ada truk tronton lain yang masuk dalam menegement perusahan sekitar 66 Truk, artinya dalam satu hari truk lalu lalang sebanyak 80 unit dengan kapasitas 22 kubik setiap unit.
Sehingga dapat disimpulkan 80 Truk dengan kapasitas 22 kubik per unit dikali 5 ritase samadengan 8.800 M3/hari. Apabila dikalikan 10 hari, itu artinya 88.000 M3 batu dari gunung Mangajar tidak bisa diangkut untuk pembangunan bendungan.
Akibat penutupan, dipastikan terjadi keterlambatan progres dalam pembangunan Bendungan Lewikweris dan diduga ada potensi kerugian Negara.
Kepala Desa Negaratengah lketika dihubungi media ini lewat ponsel pribadinya menjelaskan, kami pihak pihak Desa Negaratengah tidak mengetahui adanya penutupan mobilisasi batu dari Gunung Mangajar. ” Saya sebagai kepala Desa Karangtengah tidak mengetahui adanya penutupan di hari selasa kemarin, saya tanya Masyarakat kenapa berhenti kegiatan ternyata ada demo dari luar pihak desa karang tengah. soalnya untuk letak Gunung Mangajar ada di desa karang tengah dan desa Karanglayung” Sahutnya.
Selama ini, lanjut kepala Desa, kompensasi atau bantuan yang diberikan pihak kontraktor PT PEMBANGUNAN PERUMAHAN melalui Humas Citanduy atau pa Rahmad hanya Rp 500.000/bulan ke Desa yang dilalui kendaraan berat dan diberikan setiap tanggal 12 melalui rekening pribadi seperti Desa Negaratengah, Cijulang, Ciampanan, Rajadatu Ancol dan Karanglayung.
Media ini klarifikasi ke rumah H sebagai ketua Forum di Desa Karanglayung Kecamatan Karangjaya, untuk maksud menanyakan tuntutan demo di tanggal 12 ” Maaf pa Bapanya lagi keluar rumah” Kata seorang Ibu dari rumah mewah itu.
Terkait kronologis diatas, media ini mengirimkan pesan singkat Whatsapp ke kepala satuan kerja Bendungan Budi sebagai kepala satuan kerja Bendungan Leuwikeris, agar berita berimbang. Adapun klarifikasi kami sbb;
1. Apa benar kompensai yang diberikan pihak PP atau BBWS Citanduy hanya Rp 500.000/Desa perbulan dan darimana pos anggarannya?
2. Apa benar pihak BBWS Citanduy sebagai pengelola Gunung Mangajar dan darimana landasan hukumnya?
3. Apa hubungan PT PP dan PT DLS?
4. Sudah berapa kubikasi batu yang digunakan proyek Bendungan Leuwikeris yang di ambil dari Gunung Mangajar?
5. Apakah benar pihak BBWS C menjual batu dari Gunung Mangajar ke pihak PP dan berapa harga per kubikasinya?
6. Dengan adanya pemberhentian mobilisasi batu dari Gunung Mangajar oleh pihak Forum Masyarakat, apa solusi yang ditawarkan pihak Balai?
Sampai berita ini diturunkan, pihak Balai melalui kepala satuan kerja Bendungan ‘bungkam’ mengabaikan pertanyaan.
Masyarakat berharap Aparat Penegak Hukum ( APH) mengaudit dan menyelidiki penggunaan batu dari Gunung Pangajar, apakah penentuan harga satuan (HPS) oleh pejabat pembuat komitmen ( PPK) penggunaan batu oleh pemenang tender pembangunan Bendungan Lewikweris sudah termasuk dalam rencana anggaran biaya ( RAB) dan Batu dari Gunung Pangajar hanya dipergunakan untuk pembangunan Bendungan Lewikweris!.
Media ini akan selau memantau pembangunan Bendungan Lewikweris yang sudah menelan biaya Triliun Rupiah. Rencana awal Bendungan Leuwikeris rampung tahun 2023 dan diharapkan menjadi kawasan wisata baru guna mendorong pertumbuhan ekonomi setempat. Anehnya, sampai saat ini belum selesai.
TEAM INVESTIGASI.








