JAKARTA – Aku lahir di Jakarta Utara, di sebuah kampung yang tidak pernah meminta belas kasihan siapa pun. Di sini, kami belajar bahwa hidup keras bukan pilihan, ia adalah warisan yang dipaksakan oleh kota yang dibangun dari pinggiran. Dari kecil kami melihat bapak-bapak pulang dengan bau solar, ibu-ibu yang mengikat perut demi menyekolahkan anaknya, dan pemuda yang dihajar kenyataan sebelum sempat bermimpi. Dan di tengah semua itu, yang paling menyakitkan bukan kemiskinan. Yang paling menyakitkan adalah ketika pejabat seenaknya bicara, lalu menyebut kota kami kriminal, miskin, seolah-olah kami ini masalah negara, bukan korban pembangunan.Dari ucapan itulah lahir “Priok Bersatu”.Karena tak ada warga yang mau dihina di tanah kelahirannya sendiri.Ketika pemimpin memukul harga diri rakyat, rakyat akan berdiri. Itu hukum alam.
Belum hilang luka itu, datang lagi seorang anggota DPR yang berkata “rakyat tolol”. Keangkuhan yang menetes dari lidah kekuasaan itu lebih berbahaya dari fitnah mana pun karena ia melukai bukan satu orang, tetapi seluruh martabat publik.
Maka ketika rumahnya digruduk, ketika ada yang menjarah, ketika kemarahan membentuk gelombang, jangan berpura-pura terkejut. Arogansi pejabat adalah koreografi yang selalu mengundang kehancuran.
Jangan salahkan rakyat saat marah salahkan pemimpin yang meremehkan.
Dan hari ini, seperti sebuah ironi yang diputar ulang, seorang Gubernur berdiri di kantor Walikota Jakarta Utara dan menyebut bahwa Jakarta Utara banyak jagoan.
Apa maksudnya?, Bahwa kami kasar?
Bahwa kami tidak beradab?, Bahwa kampung kami hanya dipenuhi para Jagoan?. Kata-kata itu, yang diucapkan sambil tertawa, seperti menampar sejarah kampung kami. Jakarta Utara bukan kota jagoan; ini tanah para cendekiawan dan ustad serta da’i muda. Abdul Qadir Djaelani yang membangkitkan Amar maruf nahi munkar, Habib luar batang penjaringan yang menjadi ulama penyebaran agama islam melalui sunda kelapa pada masanya, Amir biki yang berdiri dan gugur bersama warga memperjuangkan hak dan melawan kebathilan, mereka semua bukan jagoan yang menghambat pembangunan. Mereka penjaga iman, penjaga moral, penjaga ilmu.
Tetapi pejabat hari ini tidak melihat itu.
Mereka melihat kami hanya sebagai angka pengangguran, barisan rumah kumuh, kawasan keras. Mereka lupa bahwa kerasnya warga lahir dari lembeknya kebijakan dan lambatnya pembangunan.
Apa gunanya pemimpin yang suka bicara tentang masa depan, jika masa kini saja mereka tidak mengerti?. Apa gunanya jabatan, jika mulutnya mengoyak hati warga yang sudah lama bertahan dalam keterpinggiran?. Dan apa artinya kekuasaan, jika satu ucapan buruk bisa membakar seluruh amarah warga? Ini sebuah peringatan. Peringatan yang lahir dari cinta pada kampung sendiri, tapi juga dari amarah yang tidak bisa terus-menerus ditekan.
Pejabat boleh kaya, boleh punya panggung, boleh punya jabatan. Tapi satu hal yang harus mereka ingat:
Rakyat yang kalian hina adalah rakyat yang kalian butuhkan. Rakyat yang kalian sepelekan adalah rakyat yang memilih kalian. Rakyat yang kalian rendahkan adalah rakyat yang menentukan apakah kalian pantas memimpin atau tidak.
Jangan ulangi kesalahan masa lalu.
Jangan ulangi ucapan yang melahirkan luka kolektif. Jangan ulangi arogansi yang menyulut warga Jakarta utara.
Karena bila suara rakyat yang selama ini kalian anggap kecil akhirnya meledak, ingatlah tak ada benteng kekuasaan yang kuat bila dibangun di atas penghinaan.
Hari ini kami bersuara bukan untuk meminta dihargai tapi untuk menuntut sesuatu yaitu jangan perlakukan kami seolah kami tidak berhak dihormati.
Karena kami bukan kriminal. Kami bukan tolol. Kami bukan sekadar “jagoan.” Kami rakyat. Dan suara rakyat tidak untuk diremehkan.
Kutipan Yuzeky Alpaisal,
Ditulis oleh:Ketua GPII Jakarta Raya(Farid Sudraja







