KUDUS — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus terus mematangkan berbagai persiapan istimewa guna menyemarakkan peringatan Hari Jadi Kota Kudus tahun 2026. Salah satu agenda utama yang paling dinantikan adalah pagelaran kesenian tradisional secara masif dan kolosal.
Sebagai puncak kemeriahan, Pemkab Kudus menyiapkan sajian atraksi budaya megah bertajuk pementasan Tari Lajur Caping Kalo. Langkah berani ini diambil sebagai bentuk komitmen daerah dalam mengangkat kearifan lokal ke panggung kebudayaan tingkat nasional.
Tidak tanggung-tanggung, pementasan tarian tradisional ini secara khusus ditargetkan untuk menorehkan sejarah baru. Pemerintah daerah optimistis sajian kolosal ini mampu memecahkan dan mencatatkan rekor resmi pada Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Pertunjukan spektakuler tersebut dipastikan akan menghadirkan pemandangan visual yang memukau. Sebanyak 680 penari berbakat yang terbagi ke dalam 136 grup tarian siap tampil padu dan selaras dalam satu panggung terbuka.

Sesuai dengan jadwal yang telah disiapkan, pergelaran kolosal ini bakal menggebrak publik pada Sabtu (26/9/2026) pagi. Dentuman musik iringan tari dipastikan akan menyedot perhatian ribuan pasang mata warga Kudus dan sekitarnya.
Secara teknis, para penari akan melakukan rute pergerakan tari yang dinamis dan terkonsep dengan matang. Rombongan penari bakal bergerak secara anggun mulai dari titik awal di Halaman Pendapa Kabupaten Kudus menuju kawasan depan Air Mancur Kantor Bupati Kudus.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Abdul Halil, membeberkan bahwa agenda kebudayaan ini dirancang secara inklusif. Pihaknya sengaja merangkul berbagai elemen masyarakat untuk terlibat langsung sebagai penari utama.
Latar belakang para peserta yang terlibat tergolong sangat beragam dan mencerminkan kebersamaan. Mereka terdiri dari kalangan pelajar lintas sekolah, kelompok masyarakat umum, hingga para pegawai instansi pemerintah yang sebelumnya telah menyaring bakat lewat kompetisi internal.
“Pesertanya terdiri dari berbagai lapisan, mulai dari kalangan pelajar, umum, serta para pegawai daerah yang sebelumnya telah antusias mengikuti serangkaian perlombaan,” ungkap Abdul Halil saat memberikan keterangan resmi, Rabu (23/9/2026).
Halil menjelaskan bahwa penunjukan Tari Lajur Caping Kalo sebagai ajang rekor MURI memiliki misi kebudayaan yang sangat mendalam. Langkah ini menjadi cara paling efektif untuk mengenalkan kekayaan identitas budaya Kudus ke khalayak luas.
Sebagaimana diketahui, caping kalo merupakan aksesori penutup kepala tradisional unik khas Kudus yang kaya akan nilai filosofis. Penggunaan caping kalo dalam tarian kolosal ini secara otomatis membawa unsur warisan leluhur ke dalam kemandirian agenda resmi daerah.
Ia menegaskan, perayaan hari jadi tahun ini diupayakan tidak hanya berhenti sebagai ajang seremonial kaku di kalangan pejabat. Pemerintah daerah ingin menghadirkan ruang hiburan rakyat yang nyata sehingga seluruh warga dapat merasakan kegembiraan yang sama.
“Harapan besar kami masyarakat bisa ikut bahagia menikmati hiburan dan mengapresiasi kegiatan yang sudah direncanakan. Mari bersama-sama hadir menyaksikan dan merayakan momentum ini,” tuturnya ramah.
Sisi hiburan memang sengaja mendapat porsi pementasan yang cukup besar dalam struktur acara perayaan tahun ini. Selain sajian rekor MURI di pagi hari, Pemkab Kudus juga menyiapkan panggung hiburan rakyat yang dipusatkan di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus.
Perjalanan menuju puncak acara peringatan Hari Jadi Kudus sendiri sebenarnya telah diawali dengan beragam rangkaian acara spiritual. Pemkab Kudus menggelar agenda Tahlil Massal serta Khotmil Qur’an yang berlangsung khidmat pada Selasa (22/9/2026).
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut pada Rabu (23/9/2026) dengan digelarnya Apel Hari Jadi di Halaman Pendapa Kabupaten Kudus. Pada hari yang sama, jajaran Forkopimda turut melaksanakan tradisi ziarah ke makam tujuh bupati Kudus terdahulu di Pemakaman Sedo Mukti.
Keseruan acara akan berlanjut pada Sabtu (26/9/2026) malam usai pemecahan rekor MURI penari caping kalo. Panggung hiburan rakyat di Alun-Alun Simpang Tujuh akan digoyang oleh penampilan grup musik ternama nasional, seperti Charly and Band serta Guyon Waton.
Melalui pementasan ratusan penari dari berbagai pelosok daerah ini, Pemkab Kudus berhasil menempatkan kebudayaan lokal sebagai panglima perayaan. Tari Lajur Caping Kalo kini diproyeksikan menjadi ikon kebudayaan baru yang membawa nama Kudus bergema di tingkat nasional.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kudus, Eko Djumartono, menegaskan kembali filosofi dasar dari rangkaian acara tahun ini. Ia menyebut bahwa seluruh pesta rakyat ini memang dipersembahkan khusus untuk memanjakan seluruh warga Kudus.
Keterlibatan aktif dari warga masyarakat dipandang sebagai fondasi terpenting dari suksesnya seluruh agenda yang telah dipersiapkan. “Perayaan Hari Jadi ini bukan milik para pejabat semata, melainkan pesta rakyat milik seluruh warga Kabupaten Kudus,” tegas Eko Djumartono.
( JIMMY )







