PATI – Sedekah bumi merupakan salah satu tradisi leluhur yang masih di laksanakan di Desa Tanjung anom, dukuh paras Kecamatan Gabus Kabupaten Pati. Acara ini digelar setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan hasil bumi yang melimpah. Bukan hanya sekedar ritual, sedekah bumi juga momentum untuk mempererat silaturahmi antar masyarakat dan untuk menjaga kelestarian adat budaya setempat.
Prosesi di mulai dari sambutan sesepuh desa memanjatkan doa-doa keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Mengingatkan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam, bahwa tanah yang mereka pijak, air yang mereka gunakan sehari-hari adalah anugerah yang harus di jaga dan syukuri.
Kepala Desa Tanjunganom melalui Urip Prihanto Staf Kasi Pemerintahan yang juga dipercaya masyarakat untuk menjadi ketua panitia dari seni adat tradisional dalam kesempatan tersebut mengatakan, Agenda kita hari ini masih dalam rangkaian acara sedekah bumi dukuh paras Desa Tanjunganom.
Beberapa kegiatan memang di sepakati tokoh dan segenap masyarakat bahwasanya untuk sedekah bumi tahun 2026 ini memang ada beberapa rangkaian acara mulai Kamis pagi kemarin (14/5/2026) ada kothmil Quran, untuk malam harinya ada pengajian umum dengan pembicara KH Kelik Gunawan Pribadi dari Sukoharjo, Hadroh Raso budoyo dari Jepara.

Untuk hari kedua Minggu (17/5/2026) mulai pukul 14.00 WIB sampai selesai ada kirab budaya gunungan hasil bumi dan tampilan seni budaya kreasi dari seluruh elemen masyarakat dukuh paras yang kebetulan ada 10 RT.
Disampaikan Urip, kirab budaya ini kita sesuai dengan jumlah RT ada 10 RT maka untuk gunungan yang akan kita tampilkan ada 10 gunungan, meliputi 2, RW 3 dan RW 4.Jadi lebih tepatnya RT 1 RW 3 sampai RT 5 RW 3 dan juga RT 1 RW 4 sampai ET 5 RW 4, total 10 RT jadi 10 gunungan.
Untuk acara arak-arakan, lanjutnya, star dari ujung dukuh paras tepatnya sebelah selatan kantor BKK Gabus lurus ke selatan sampai ujung dukuh paras berbatasan dengan Desa Angkatan lor.
Dalam kegiatan ini untuk masyarakat dukuh paras dan tokoh adat, tokoh dari pemdes Tanjunganom di wakili Sekdes mewakili Kades yang sedang menunaikan ibadah haji, dari fokopimcam, Koramil dan Polsek Gabus, ” imbuhnya.
Semua kegiatan yang di lakukan, lusa seni tradisional ketoprak, karena sudah tradisi untuk sumber dana swadaya masyarakat dukuh paras,” jelasnya.
Kedepan mudah-mudahan acara bisa di kembangkan lebih berkualitas bisa di tingkatkan lebih baik dalam segala hal. Ini adalah simbol pengabdian dan penghormatan kepada leluhur.
Pagelaran ini selain menjadi hiburan sekaligus sarana untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat melalui cerita yang di bawakan yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang mengajarkan kebijaksanaan, rasa syukur dan pentingnya menjaga keharmonisan dalam hidup.
Menurut tradisi sedekah bumi di dukuh paras Desa Tanjunganom ini telah berlangsung ratusan tahun dan tetap di jaga hingga kini sebagai warisan budaya leluhur. Kegiatan ini bukan hanya sekedar ritual, tetapi tetapi juga warisan budaya yang mengandung filosofi mendalam tentang rasa syukur, kebersamaan dan keharmonisan menjadi pengingat bagi setiap warga akan pentingnya hidup selaras dengan alam.
(hr/Wgm)







