KUNINGAN – Ratusan ikan dewa yang mati misterius sejak awal diketahui oleh petugas di kolam Cigugur pada hari Kamis, 29 Januari, kini terjawab sudah setelah pihak Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan melakukan uji klinis terhadap ikan dan air kolam di mana ikan dewa tersebut hidup di lokasi kolam Cigugur selama ratusan tahun sejak zaman dahulu.
Dari hasil uji klinis terhadap kondisi ikan dan kondisi air di kolam Cigugur, didapat keterangan bahwa pada ikan dewa terdapat luka berwarna merah (hemoragi) pada permukaan tubuh ikan dewa.
Insang berwarna pucat hingga memutih, sisik ikan mudah terlepas dan terkelupas, serta terjadi penurunan daya tahan tubuh.
Ikan dewa juga rentan terhadap parasit, infeksi Lernaea sp., gangguan pernapasan, dan terjadi infeksi sekunder yang menyebabkan kematian ikan tersebut.
Demikian apa yang disampaikan oleh Kadis Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, Dr. H. A. Taufik Rohman, M.Si., M.Pd., kepada jurnalis kompasone.com SKM Buser melalui kontak WA.

Rekomendasi penanganannya untuk jangka pendek antara lain mengangkat bangkai ikan dewa dari kolam dan memusnahkan atau dikuburkan secara aman.
Mengisolasi ikan yang menunjukkan gejala sakit, penanganan infeksi Lernaea sp. dengan metode yang aman dan terkontrol, serta melakukan sterilisasi air kolam agar kualitas air bersih melalui cara pergantian air bertahap dan penyesuaian pH air.
Jurnalis kompasone.com SKM Buser saat mempertanyakan perihal upaya pelestarian dan pengembangbiakan ikan dewa, Kabid Perikanan Denny Rianto, S.Pi., M.Si. menjelaskan bahwa upaya itu sudah dilakukan sejak lama.
Untuk melestarikan dan upaya mengembangbiakkan ikan dewa ada di beberapa tempat, di antaranya di daerah Cibinuang, di Pasawahan, di Sadamantra, dan tempat lainnya, jelasnya via kontak WA kepada Arif Alex Rahman, jurnalis Buseronlinenews.
(Arif/Alex)







