Ciamis — Proyek Pemeliharaan Situ Cibeureum yang berlokasi di Desa Bantardawa, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis kini menjadi sorotan tajam.
Pekerjaan yang menelan anggaran negara sebesar Rp310.814.000 melalui UPTD Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Citanduy ini diduga kuat dilaksanakan asal-asalan dan melanggar standar operasional prosedur (SOP) konstruksi demi meraup keuntungan sepihak.
Proyek yang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana CV Segi Tiga Mas tersebut dituding berpotensi merugikan keuangan negara akibat penurunan mutu konstruksi secara masif.
Berbagai temuan teknis di lapangan mengindikasikan adanya pembiaran pengawasan yang berujung pada potensi kegagalan struktur bangunan.

Bongkar Modus Dugaan Penyimpangan Teknis
Berdasarkan hasil investigasi lapangan dan dokumen teknis yang dihimpun tim redaksi, terdapat sejumlah kejanggalan fatal yang diduga sengaja dilakukan untuk menekan biaya produksi (kos) oleh pihak penyedia jasa:
Pemasangan Batu dalam Air dan Lumpur
Fakta di lapangan menunjukkan struktur pasangan batu dipasang langsung pada saluran yang masih digenangi air dan lumpur pekat.
Kontraktor diduga sengaja mengabaikan metode dewatering (pengeringan) atau pengalihan aliran air (bypass flow) untuk menghemat biaya operasional.
Akibatnya, adukan semen (mortar) dipastikan tercampur lumpur, mengurangi daya rekat, dan membuat bangunan rapuh serta rawan ambrol saat debit air naik.
Adukan Mortar Manual dan Kucing-Kucingan Mutu
Pencampuran material mortar dilakukan secara manual tanpa pengawasan ketat.
Ada dugaan kuat terjadinya pengurangan volume semen (pencolengan spek) dan penggunaan pasir berkadar lumpur tinggi, yang memicu retak rambut hingga retak struktural di kemudian hari.
Misteri Kedalaman Pondasi
Hingga saat ini, dimensi, kedalaman galian, serta lantai kerja (lean concrete) pondasi pasangan batu terkesan disembunyikan dan tidak terlihat jelas.
Kuat dugaan, galian pondasi tidak digali sesuai kedalaman shop drawing demi mengejar progres fisik instan.
Ancaman Pohon Besar Dipelihara pada Struktur
Ditemukan pohon-pohon berukuran besar di zona inti pondasi yang dibiarkan begitu saja.
Akar pohon ini dipastikan akan memecah nat mortar dan menjebol dinding saluran dalam jangka menengah, sebuah kecerobohan fatal dalam perencanaan dan pelaksanaan.
Ini Indikasi Korupsi
Menanggapi carut-marutnya proyek tersebut, Aktivis Lembaga Anti Korupsi Jawa Barat, Rendi Pirnanda, menyatakan bahwa temuan-temuan di Situ Cibeureum bukan sekadar kelalaian teknis biasa, melainkan ada unsur kesengajaan untuk mengurangi kualitas demi keuntungan materiil.
“Kami melihat ini sebagai indikasi kuat adanya praktik ‘main mata’ antara pihak pengawas UPTD PSDA Wilayah Sungai Citanduy dengan CV Segi Tiga Mas. Bagaimana mungkin pekerjaan pasangan batu dihamparkan di atas lumpur dan air hidup dibiarkan? Itu jelas merusak mutu beton dan mortar! Ini uang rakyat, bukan uang nenek moyang mereka!” tegas Rendi Pirnanda, Rabu 10/06/2026.
Rendi juga menambahkan, risiko kegagalan bangunan pada proyek ini masuk dalam kategori tinggi.
Ia mendesak pihak Aparat Penegak Hukum (APH) dan Inspektorat untuk segera turun tangan memeriksa dokumen Mutual Check Nol (MC-0), As-Built Drawing, serta melakukan uji lab terhadap mutu mortar di lokasi.
“Jangan tunggu bangunannya roboh atau hanyut terbawa banjir baru kasak-kusuk. Kami mendesak Kepala UPTD terkait untuk menghentikan sementara pembayaran sebelum dilakukan audit teknis independen. Jika terbukti ada pengurangan volume dan manipulasi metode kerja, kami akan segera menyerahkan laporan analisis temuan atas dugaan tindak pidana korupsi ini ke Kejaksaan Tinggi,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak CV Segi Tiga Mas maupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari UPTD Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Citanduy belum memberikan jawaban resmi terkait informasi ini.
Simak penelusuran selanjutnya.
Red Tumengger.







