Buseronlinenews

Panas Bumi di Pangrango: Ketika Energi Bersih Menyapa Lahan Surga

CIANJUR – Di lereng selatan Gunung Gede Pangrango, saat kabut tipis masih menyelimuti hamparan kebun kol dan wortel, sebuah peradaban energi baru tengah tumbuh tanpa suara. Puluhan wartawan dari berbagai media memadati ruang pertemuan di Cipanas, Rabu siang, menyaksikan pemaparan yang tak hanya menjanjikan terang, tetapi juga mempertaruhkan pamor: mampukah energi bersih hadir tanpa melukai alam yang telah lama menjaga Cianjur?

PT Daya Mas Geopatra Pangrango (DMGP) menjawabnya dengan angka. Sebelas hektare. Tidak lebih dari 0,02 persen dari total kawasan konservasi. Dari ruang sekecil itu, mereka mengebor harapan: 125 megawatt listrik panas bumi—cukup untuk menerangi lebih dari 100 ribu rumah, tanpa asap, tanpa batu bara, tanpa suara bising yang mengusik ayam berkokok di kejauhan.

“Kami hanya menitipkan pipa berdiameter kecil ke perut bumi. Bukan menggali gunung, bukan melukai mata air. Ini bukan lagi soal teknologi; ini soal cara kita memperlakukan titipan Tuhan,” ujar Humas DMGP, Imron Rosyadi, dengan nada datar namun tegas.

Vulkanolog vs Rumor: Menjawab Ketakutan dengan Sains

Selama bertahun-tahun, bayang-bayang bencana membayangi proyek ini. Gunung meletus. Gempa. Air mengering. Petani kehilangan panen. Isu-isu itu bergerak lebih cepat dari sosialisasi pemerintah, menjalar dari warung kopi hingga ruang-ruang sidang DPRD.

Namun hari ini, DMGP menghadirkan senjata yang tak terbantahkan: sains.

Dua pakar geologi Universitas Padjadjaran duduk di kursi depan, membawa data dan ketenangan. Dr. Dewi Gentana menjelaskan sistem sirkulasi tertutup—closed-loop—yang membuat fluida panas bumi tidak hilang, melainkan kembali ke perut bumi. “Tekanannya stabil. Tidak ada lubang menganga, tidak ada kekosongan. Ini bukan teknologi eksploitasi, ini teknologi sirkulasi,” katanya.

Prof. Nana Sulaksana menambahkan penjelasan yang selama ini dinanti warga: air mereka aman. Antara sumur warga dan reservoir panas bumi terdapat lapisan batuan kedap air setebal ratusan meter. “Tidak ada hubungan. Tidak ada perampokan air. Sayuran Cipanas tetap segar, petani tetap tersenyum,” ujarnya disambut tawa kecil peserta.

Yang tak banyak diketahui publik: proyek ini tidak lahir dari meja rapat korporat, melainkan dari ruang-ruang warga. Selama tiga tahun, DMGP dan pemerintah desa menggelar forum demi forum. Di balai desa, di masjid, di kebun petani—mereka duduk, mendengar, mencatat keberatan, lalu kembali ke laboratorium.

Seismograf kini terpasang di beberapa titik. Getaran sekecil apa pun terekam dan diumumkan. Tidak ada lagi ruang untuk rahasia.

“Dulu saya takut air sumur kering. Sekarang saya melihat sendiri pipa-pipa itu masuk ke tanah, dan kol saya tetap hijau. Kalau tidak ada yang merusak, mengapa harus takut?” tutur Rasim, 58 tahun, petani kentang yang lahannya berada tak jauh dari area eksplorasi.

Di tengah riuh rendah krisis iklim dan ambisi net zero emission 2060, proyek ini seperti antitesis dari segala kontroversi energi selama ini. Tak ada penggusuran. Tak ada hutan yang dibabat. Tak ada emisi yang melangit.

Justru, yang terjadi adalah sebaliknya: konservasi tetap berjalan, petani tetap menanam, dan listrik tetap mengalir.

“Kami ingin proyek ini menjadi contoh bahwa transisi energi bukan soal memilih antara pembangunan atau lingkungan. Tapi soal bagaimana keduanya bisa duduk bersama,” kata Imron di akhir diskusi.

Di luar ruangan, angin berembus membawa aroma tanah basah dan daun. Gunung Gede Pangrango diam, tenang—seolah tahu bahwa di perutnya, mesin-mesin kecil kini bekerja tanpa suara, menyalakan lampu-lampu di kota tanpa pernah mematikan kehidupan di desa.

Oding/ASNajib