Buseronlinenews

Laporan Dugaan Pelanggaran Disiplin dan Etika di Kantor Kampung Samburakat

Kedisiplinan aparatur desa kembali menjadi sorotan setelah tim media GARUDASIBER mendatangi Kantor Kampung Samburakat, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Diketahui bahwa Kepala Kampung Samburakat tidak berada di tempat pada jam kerja pada hari Jumat, 9 Januari 2026.

Kronologi Ketidakhadiran Kepala Kampung

Saat dikonfirmasi, Kepala Kampung Samburakat tidak memberikan tanggapan atau bungkam. Informasi yang didapatkan menyebutkan bahwa Kepala Kampung tidak berada di kantor pada jam kerja dengan alasan sedang menuju Tanjung Redeb untuk mengurus kegiatan Koperasi Merah Putih bersama Bintara Pembina Desa.

Insiden Kericuhan di Kantor Kampung

Permasalahan ini bermula ketika satu keluarga asal Bontang yang sudah menetap di Kampung Samburakat selama kurang lebih dua tahun mendatangi kantor kampung. Mereka bermaksud meminta surat permohonan domisili sementara. Staf kantor kampung telah menerima permohonan tersebut dan dokumen sudah diterbitkan, sehingga hanya tinggal menunggu tanda tangan dari Kepala Kampung Samburakat.

Namun, saat sedang menunggu kehadiran Kepala Kampung, muncul seorang warga yang disinyalir adalah Ketua Karang Taruna. Oknum tersebut diduga melakukan provokasi dengan menyatakan bahwa keluarga tersebut ditolak dan tidak diterima menjadi warga Samburakat.

Sontak terjadi kericuhan di kantor kelurahan yang dipicu oleh oknum Ketua Karang Taruna tersebut. Urusan administrasi domisili sementara justru dikaitkan dengan pengajuan proposal, sehingga terjadi keributan yang tidak pantas.

Ibu Maya selaku pemohon menyatakan bahwa dirinya sedang menunggu Kepala Kampung untuk menandatangani surat domisili, namun oknum Ketua Karang Taruna mengeluarkan kata-kata tidak elok dan mencoba melakukan tindakan pemukulan. Ibu Maya menyatakan tidak terima atas perlakuan oknum tersebut terhadap keluarganya.

Respon Pihak Keluarga Kepala Kampung

Tim media mencoba mengonfirmasi Kepala Kampung Samburakat melalui sambungan telepon WhatsApp, namun panggilan tersebut diterima oleh istri Kepala Kampung. Istri Kepala Kampung justru mengeluarkan pernyataan bahwa Ibu Maya kurang ajar dan memberikan instruksi kepada staf kantor kampung untuk mengusir pemohon dengan alasan telah membuat keributan.