Buseronlinenews

Gorol, Inovasi Cianjur yang Membangun Jalan dari Genggaman Warga: 140 Meter Rabat Beton Ditarget 10 Hari

CIANJUR – Di tengah keterbatasan fiskal daerah, Pemerintah Kabupaten Cianjur di bawah kepemimpinan Bupati dr. H. Muhammad Wahyu Ferdian membuktikan bahwa percepatan pembangunan pedesaan tidak harus selalu bergantung pada anggaran besar.

​Kuncinya adalah menghidupkan kembali denyut nadi sosial yang selama ini tertidur: gotong royong.

​Rabu (20/5/2026), sebuah proyek infrastruktur yang tidak biasa mulai terlihat di wilayah utara Cianjur.

​Di Kampung Kingkung, Desa Pakuwon, Kecamatan Sukaresmi, dan berakhir di Kampung Babakansaputra, Desa Cibodas, Kecamatan Pacet, puluhan warga tampak bahu-membahu mengerjakan rabat beton.

​Mereka bukan pekerja proyek, melainkan petani dan pemuda desa yang bersatu di bawah bendera program GOROL (Gotong Royong Lobaan).

​Program unggulan Bupati Wahyu Ferdian ini mengubah paradigma lama: pemerintah menyediakan material (semen, pasir, kerikil), sementara masyarakat menyediakan tenaga secara sukarela.

​Hasilnya, jalan sepanjang 140 meter dengan lebar 4 meter dikerjakan dengan target rampung hanya dalam 10 hari.

​Angka yang jauh melampaui efisiensi skema konvensional yang biasanya memakan waktu hingga satu bulan.

​Bagi warga Pacet dan Sukaresmi, proyek ini seperti jawaban atas doa yang tertahan bertahun-tahun.

​Camat Pacet, Neng Didi, S.H., M.H., menyebut kondisi jalan di wilayahnya selama ini sangat memprihatinkan, terutama saat musim hujan.

​”Program GOROL adalah angin segar. Dengan metode gotong royong yang didukung anggaran stimulan dari Pak Bupati, pengerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Target 10 hari sangat realistis, bahkan bisa lebih cepat, karena antusiasme warga luar biasa. Ini bukan sekadar proyek fisik, ini kebangkitan partisipasi publik,” ujar Neng Didi dengan nada antusias saat ditemui di lokasi proyek.

​Tidak hanya di Pacet, semangat serupa juga membara di Sukaresmi.

​Camat Sukaresmi, Azis Muslim, S.S.T.P., M.A.P., menekankan bahwa dampak psikologis dan sosial dari program GOROL jauh melampaui nilai materialnya.

​”Pak Bupati tidak hanya memberikan bantuan material, tetapi juga memicu kebangkitan rasa memiliki terhadap pembangunan. Di Desa Pakuwon, warga dari berbagai unsur—petani, buruh, hingga tokoh pemuda—bahu-membahu. GOROL membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur tidak harus selalu menunggu anggaran besar, asalkan ada komitmen dan solidaritas sosial yang kuat,” jelas Azis.

​Nama GOROL sendiri sengaja dipilih karena merupakan akronim dari Gotong Royong Lobaan—sebuah istilah lokal di Cianjur yang merefleksikan tradisi kerja bakti tanpa pamrih yang hampir terlupakan.

​Dengan menghidupkan kembali filosofi Lobaan, Bupati Wahyu Ferdian secara cerdas mengemas kebijakan modern ke dalam bungkus kearifan lokal.

​”Kami ingin pembangunan ini dirasakan sebagai milik mereka, bukan milik kontraktor. Ketika warga ikut mencangkul, mengangkut pasir, dan mengecor, maka mereka akan merawat hasilnya dengan hati,” ujar Bupati Wahyu Ferdian dalam keterangan terpisah.

​Oding/Jib