Cianjur – Di sebuah desa yang belum lama berselang masih menyisakan duka dan reruntuhan akibat gempa, gelombang solidaritas justru mengalir deras. Sukamanah, Desa di Kecamatan Cugenang yang tiga tahun lalu porak-poranda diterpa gempa, kini menjadi sumber harapan bagi saudara-saudaranya di seberang pulau.
Pada Jumat (5/12/2025), semangat gotong royong itu mewujud dalam aksi penggalangan donasi yang digerakkan secara bersama oleh Karang Taruna dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Desa Sukamanah. Tujuannya: membantu meringankan beban korban banjir yang melanda Aceh dan Sumatera.
Yang membuat aksi ini begitu menyentuh adalah landasannya: empati yang lahir dari pengalaman pahit yang sama. Kepala Desa Sukamanah, Indra Surya Pradana, dengan suara bergetar haru, mengungkapkan hal itu.
“Kami sangat mengapresiasi kepedulian warga Sukamanah. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera,” ujar Indra. Namun, pesan yang lebih dalam tersirat dalam lanjutannya: “Kita pernah berada di posisi mereka saat gempa 2022 lalu. Karena itulah, kepedulian warga hari ini menjadi sangat berarti.”
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia adalah pengakuan jujur dari sebuah komunitas yang tahu persis bagaimana rasanya kehilangan, dan bagaimana sentuhan bantuan dari orang asing sekalipun bisa menjadi penopang semangat. Sukamanah tidak lagi hanya sebagai penerima, tetapi telah bertransformasi menjadi pemberi yang tulus.
Di garis depan pengumpulan dana, semangat kaum muda terpancar. Zenal Abidin, Ketua Karang Taruna yang juga koordinator kegiatan, melaporkan pencapaian yang luar biasa. “Hingga hari ini, Jumat 5 Desember 2025, donasi yang telah terkumpul mencapai Rp 13.933.500,” ungkapnya dengan bangga.

Dana sebesar itu tidak akan mengendap. Zenal menjelaskan, seluruh sumbangan akan dikonversi menjadi bahan pokok yang paling dibutuhkan: beras dan sembako. Mereka memiliki target ambisius namun penuh harap: mengumpulkan 1 ton beras.
“Kami menargetkan dapat mengumpulkan 1 ton beras. Mudah-mudahan target ini tercapai, dan donasi tahap pertama akan kita tutup Senin, 8 Desember 2025,” jelas Zenal. Ia juga menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada seluruh elemen desa—pengurus RT/RW, kader PKK dan Posyandu, serta seluruh warga—yang telah bahu-membahu.
Aksi ini lebih dari sekadar angka rupiah dan tonase beras. Ini adalah pelajaran nyata tentang resiliensi dan kemanusiaan. Desa yang masih dalam proses pemulihan fisik dan mental, justru memilih untuk membuka hati dan kantongnya untuk membantu orang lain yang sedang menderita.
Dari lereng Cugenang, Sukamanah mengirimkan pesan kuat: luka yang dialami tidak membuat mereka tenggelam dalam kepedihan, tetapi justru mengasah kepekaan untuk merasakan penderitaan orang lain. Getuk, makanan khas yang sering jadi simbol ketahanan warga Cianjur, seolah menemukan makna baru: ketahanan untuk bangkit dan menolong.
Donasi masih terbuka hingga Senin mendatang. Setiap butir beras yang terkumpul tidak hanya akan mengenyangkan perut, tetapi juga menyuburkan benih kebaikan dan memperkuat jalinan persaudaraan se-Nusantara, membuktikan bahwa dari desa kecil bernama Sukamanah, bisa lahir harapan besar untuk Indonesia.
Oding/Aji







