KUDUS – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Dr. H. Musthofa, S.E., M.M., menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang berlangsung hangat dan interaktif di Aula SMA Negeri 2 Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan edukatif ini dihadiri oleh 150 peserta yang terdiri dari unsur guru dan pelajar SMAN 2 Bae Kudus. Acara dipandu oleh Rini Mariani selaku pembawa acara, dengan menghadirkan narasumber pendamping Nur Afifudin, S.Pd., M.Pd.
Dalam pemaparannya sebagai keynote speaker, Dr. H. Musthofa menekankan pentingnya pemahaman Pancasila sebagai dasar sekaligus ideologi negara. Menurutnya, seluruh kebijakan pemerintahan dan tata kehidupan bermasyarakat wajib bersumber dari nilai-nilai luhur Pancasila.

Ia menjelaskan bahwa Pancasila sebagai ideologi memuat panduan komprehensif mengenai arah bangsa Indonesia. Bangsa ini dirancang untuk terus memegang teguh nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi deliberatif, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Suasana sosialisasi semakin dinamis saat memasuki sesi tanya jawab interaktif. Siswi SMAN 2 Bae Kudus, Aurel Ayunda Liyana, memantik diskusi dengan menanyakan keunikan ideologi Pancasila jika dibandingkan dengan ideologi negara-negara lain di dunia.
Menjawab pertanyaan tersebut, Musthofa memaparkan bahwa keunggulan Pancasila terletak pada kemampuannya menyatukan prinsip keagamaan, kemanusiaan, dan keadilan sosial secara seimbang. Pancasila berhasil memadukan hak individu dan kewajiban sosial tanpa memicu ketimpangan.
Pertanyaan kritis berikutnya datang dari M. Emil El Ghifari mengenai relevansi semboyan Bhinneka Tunggal Ika di tengah maraknya aksi saling ejek serta potensi perpecahan berbasis Suku, Agama, dan Ras (SAR) saat ini.
Musthofa menegaskan bahwa Bhinneka Tunggal Ika tetap sangat relevan. Menurutnya, keberagaman adalah sunnatullah dan kenyataan yang tidak bisa dihindari, sedangkan persatuan merupakan pilihan dan komitmen bersama yang harus terus dirawat.
Guna menjaga keutuhan bangsa, politisi senior ini membagikan sejumlah langkah konkrit kepada para siswa. Langkah tersebut meliputi penguatan toleransi, penghentian narasi provokatif di media sosial, serta pengutamaan dialog musyawarah saat terjadi perselisihan.
Selain itu, ia berpesan agar nilai toleransi ditanamkan sejak lingkungan sekolah dan keluarga. Budaya gotong royong juga wajib dihidupkan kembali agar persatuan tidak sekadar menjadi slogan di atas kertas, melainkan aksi nyata di tengah masyarakat.
Antusiasme peserta terus berlanjut ketika Bulan Fajar Sabrani mengajukan pertanyaan mengenai kiat menjadi sosok pemimpin yang sukses dan mampu bertahan melintasi berbagai tantangan zaman.
Musthofa mengungkapkan bahwa kepemimpinan yang tahan uji tidak hanya mengandalkan jabatan formal. Pemimpin sejati harus memiliki karakter yang kuat, keluwesan beradaptasi, serta kedekatan emosional dengan rakyat yang dipimpinnya.
Ia pun membagikan rumus emas untuk mencapai kesuksesan hidup dan kepemimpinan, yakni penggabungan antara disiplin, konsistensi, dan ideologi yang teguh. Menurutnya, ketiga elemen ini saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Sebagai penutup, Musthofa berpesan bahwa disiplin diperlukan untuk memulai langkah, konsistensi dibutuhkan untuk bertahan dari rintangan, dan ideologi bertindak sebagai kompas penunjuk arah kehidupan agar tidak kehilangan jati diri.
( JIMMY )







