Cianjur — Tim BUSER Online, Kamis, 5/3/2026, melakukan investigasi ke lokasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Al-Hijrah di Kampung Garduh Rukun Tetangga 01 Rukun Warga 03 Desa Jatisari, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang diduga melakukan “mark up” siswa.
Dalam data Data Pokok Pendidikan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat ini memiliki jumlah siswa sebanyak 830 orang.
Namun, ketika BUSER Online mendatangi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Al-Hijrah di Kampung Garduh Rukun Tetangga 01 Rukun Warga 03 Desa Jatisari, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, tidak ada siswa yang belajar.
Begitu juga para guru dan penanggung jawab tidak ada, hanya ruang belajar yang tampak kosong.
Kemudian BUSER Online mendatangi tempat Lembaga Kursus dan Pelatihan Al-Hijrah di tempat yang berbeda, ditemukan tempat pelatihan yang berisi musik gendang, organ, dan peralatan musik lainnya.
Namun, ketika akan dikonfirmasi kepada Kepala Sekolah atau Penanggung Jawab Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau Lembaga Kursus dan Pelatihan Al-Hijrah, yang bersangkutan tidak berada di tempat.
Menurut para peserta kursus yang sedang mengikuti pembelajaran, tidak semua peserta masuk, terang salah seorang peserta kepada BUSER Online di ruang pembelajaran Lembaga Kursus dan Pelatihan Al-Hijrah.
Menurut salah seorang peserta, jumlah peserta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan Lembaga Kursus dan Pelatihan ada 1.000 peserta.
Berdasarkan pantauan BUSER Online, hanya ada 18 orang peserta yang mengikuti pelatihan hari itu, Kamis 5/3/2026.
Terdapat 16 orang perempuan usia 25 tahun dan 2 orang laki-laki usia 20 tahun yang sedang memainkan kendang.
Di tempat terpisah, BUSER Online meminta komentar Lembaga Swadaya Masyarakat yang sedang mengkritisi siswa fiktif Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat se-Kabupaten Cianjur.
Menurut Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Majelis Rakyat Anti Korupsi Kabupaten Cianjur, Dedi, didampingi Sekretaris Jenderal Alam Abubakar, banyak Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Cianjur yang diduga kuat memiliki siswa fiktif.
Hasil sementara penelusuran Lembaga Swadaya Masyarakat Majelis Rakyat Anti Korupsi ada sekitar 52 ribu siswa fiktif, terang Dedi yang diiyakan oleh Sekretaris Jenderal.
Untuk mengungkap kebenaran siswa fiktif adalah melalui pihak masing-masing Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang jumlah siswanya “gemuk” dari absen kehadiran siswa, nama siswa, nama orang tua, alamat, dan nomor telepon.
Coba dicek alamat nama siswa tersebut, dengan begitu akan diketahui jelas, jelas Sekretaris Jenderal Majelis Rakyat Anti Korupsi Alam Abubakar, Sabtu 7/3/2026 pada acara buka bersama di salah satu rumah makan.
Hingga berita ini turun, pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Al-Hijrah belum bisa dikonfirmasi.
( Roni/ Y )







