Buseronlinenews.com – Dua calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jawa Barat, Lilis Mulyani (asal Kabupaten Garut) dan Siti Ani Musaroh (asal Padalarang, Kabupaten Bandung Barat), nyaris menjadi korban perdagangan orang (TPPO). Mereka mengaku diperdaya oleh sejumlah orang yang menjanjikan pekerjaan dengan fit salary (uang jaminan) yang tidak sesuai realita.
Kedua perempuan itu menyampaikan pengalamannya pada Kamis, 25 September 2025, setelah berhasil menyelamatkan diri dari upaya pemalsuan dokumen dan pemaksaan ke luar negeri.
Berdasarkan penuturan Lilis dan Siti, kronologi peristiwanya berawal ketika mereka direkrut oleh seorang perempuan bernama Laras. Melalui Laras, mereka kemudian dimasukkan kepada seorang sponsor bernama Bu Nia. Dari Bu Nia, mereka kembali dialihkan ke dua orang lain, yakni Pak Hasan dan Pak Sandi.
“Kami dijanjikan akan mendapatkan uang fit sebesar Rp 5 juta masing-masing. Janji itu yang membuat kami tertarik,” ujar Lilis saat diwawancarai.
Namun, janji manis itu ternyata jauh dari kenyataan. Alih-alih menerima Rp 5 juta, Lilis dan Siti masing-masing hanya mendapat Rp 1 juta. Ketidaksesuaian janji semakin menjadi ketika hari penerbangan tiba.
“Pas mau berangkat, kami hanya diberikan masing-masing uang sebesar Rp 125 ribu saja untuk bekal. Sangat tidak masuk akal dibandingkan dengan perjanjian awal,” tambah Siti dengan nada kecewa.
Yang lebih memperparah keadaan, keduanya mengaku dipaksa oleh oknum anggota untuk tetap berangkat meski dengan kondisi yang tidak sesuai perjanjian. Tekanan dan pemaksaan inilah yang membuat mereka merasa menjadi korban dari tindak pidana perdagangan orang.
“Saat itu kami benar-benar tidak berdaya. Kami dipaksa untuk berangkat dengan iming-iming yang palsu dan fasilitas yang sangat minim,” tutur Lilis.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwajib diduga masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap kasus ini untuk mengungkap peran serta Laras, Bu Nia, Pak Hasan, dan Pak Sandi dalam jaringan TPPO tersebut. Lilis dan Siti berharap kejadian ini menjadi perhatian serius agar tidak ada lagi warga yang menjadi korban modus serupa.(Asep.setiawan)







