Buseronlinenews.com – Belum juga satu jam Udin duduk di batu besar, anak-istri sudah rewel minta nyebur. “Sebentar saja, Pak. Airnya segar!”
Udin mengalah. Digelar karpet 20 ribu tadi di atas batu.
Baru saja si Dede menyemplungkan kaki, tiba-tiba toa musala bunyi nyaring: “Perhatian-perhatian! Kepada seluruh pengunjung harap segera naik dari kali! Air banjir kiriman mau datang! Ulangi, segera naik! Air deras dari hulu!”
Kaget. Semua menengok ke hulu.
Dari kejauhan terdengar gemuruh, air yang tadinya bening berubah kuning keruh. Sampah ranting terbawa arus.
Derasnya tidak main-main, menabrak batu gede seolah mau mengajak berantem.
Panik. Emak-emak teriak memanggil anaknya. Bapak-bapak menyeret karpet, menyeret gazebo.
Karaoke mati. Kelinci di kandang digotong cepat. Jembatan bambu bergoyang kena hantam arus pertama.
Udin menyeret anak-istri naik ke darat. Napas ngos-ngosan.

Dari atas, dia lihat air kuning itu ngamuk, melewati jembatan bambu setinggi betis orang dewasa. Lima menit telat, bisa terbawa.
Pas sudah agak aman, Udin menghampiri petugas yang tadi memegang toa. Mukanya lugu, tapi keringatnya banyak.
“Pak,” tanya Udin pelan, “selama dijadikan wisata begini… pernah makan korban tidak?”
Petugas itu diam sebentar. Senyumnya ditarik paksa. Matanya melihat ke arah loket, bukan ke Udin.
“Alhamdulillah, sementara ini belum pernah, Pak,” jawabnya. Celengosan. Gerak-geriknya seperti orang menyembunyikan kartu.
Udin cuma mengangguk. Dalam hati dia menertawakan diri sendiri. Ya mana mungkin dia jujur.
Kalau dia bilang “pernah”, besok loket kosong. Gazebo 50 ribu tidak ada yang menyewa.
Udin bertanya lagi, kali ini lebih menusuk: “Kalau kejadian, Bapak jamin?”
Petugas itu garuk-garuk kepala, menengok ke temannya yang lagi gulung kabel toa.
“Ya… kita sudah kasih peringatan toh, Pak. Kan sudah diumumkan. Keselamatan masing-masing.”
Angin gunung tiba-tiba terasa dingin sekali. Udin menatap tiket Rp20 ribu di tangannya. Sobek sedikit kena air.
Di kertas itu tidak ada tulisan “asuransi”. Tidak ada tulisan “SOP evakuasi”. Adanya cuma cap luntur: “Leuwi Kunten”.
Dia gandeng anak-istri. Pulang. Tidak jadi mandi. Tidak jadi tertawa.
Batu gede di tengah kali masih diam. Dari dulu dia sudah tahu: air kalau marah tidak minta karcis.
(Zakaria)







