Buseronlinenews

Bupati Cianjur Canangkan Transformasi SPNF 2026: 369 PKBM Disiapkan Menuju Lembaga Berdaya dan Berkelas

CIANJUR – Pemerintah Kabupaten Cianjur menegaskan komitmennya dalam memajukan pendidikan nonformal melalui pembukaan secara resmi Bimbingan Teknis (Bimtek) Transformasi Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Menuju Sekolah Berdaya 2026. Acara yang berlangsung di Palace Hotel Cipanas pada Jumat hingga Minggu (13–15 Februari 2026) ini diikuti oleh 369 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dari seluruh kecamatan se-Kabupaten Cianjur.

Bimtek yang digagas oleh Dewan Pimpinan Daerah Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (DPD FK PKBM) Kabupaten Cianjur ini mengusung agenda strategis: penguatan tata kelola dan efektivitas penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan yang akuntabel. Kegiatan tiga hari itu dihadiri langsung Bupati Cianjur dr. Mohammad Wahyu Ferdian serta Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cianjur, Ruhli Solehudin.

Dalam sambutannya, Bupati Wahyu Ferdian menekankan bahwa era globalisasi menuntut lembaga pendidikan nonformal tidak hanya hadir sebagai alternatif, tetapi sebagai pilihan utama yang berkualitas.

“Pendidikan kesetaraan melalui PKBM dan SKB bukan sekadar pelengkap. Ini adalah garda depan dalam menjangkau mereka yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan formal. Pemerintah daerah tidak hanya mendukung secara simbolis, tetapi hadir dalam penguatan nyata: tata kelola yang bersih, manajemen transparan, dan lulusan yang kompeten,” tegas Wahyu di hadapan para pengelola PKBM.

Bupati yang dikenal aktif dalam isu-isu pembangunan sumber daya manusia ini menyebut bahwa sinergi antara pemerintah daerah, pengelola PKBM, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam mempercepat peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Cianjur. Menurutnya, kapasitas tenaga pendidik dan akuntabilitas pengelolaan program menjadi fondasi mutlak yang harus diperkuat.

Sementara itu, Ketua DPD FK PKBM Kabupaten Cianjur, Deni Abdul Kholik, memaparkan bahwa organisasinya selama ini menjadi jembatan komunikasi antara 369 PKBM dengan pemerintah daerah. Ia mengingatkan bahwa FK PKBM telah berdiri sejak 29 Desember 2002 di tingkat pusat dan kini memiliki struktur hingga ke daerah.

“Kami lahir untuk mewadahi peran serta PKBM dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan hanya sebagai penyelenggara program Paket A, B, dan C, tetapi juga sebagai pusat kursus keterampilan, keaksaraan, hingga pemberdayaan masyarakat. Ini lembaga yang utuh,” ujar Deni.

Data yang disampaikan Deni menunjukkan lompatan signifikan dalam penguatan kelembagaan PKBM di Cianjur. Hingga 2024, tercatat 83 PKBM yang berhasil meraih akreditasi. Angka tersebut melonjak drastis pada akhir 2025 menjadi 251 PKBM dari total 369 lembaga. Lebih menggembirakan, sebanyak 347 lembaga telah menerima Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), tersebar di 32 kecamatan.

“Ini bukan sekadar angka. Ini bukti bahwa PKBM di Cianjur sedang bergerak cepat menuju tata kelola yang profesional. Bimtek ini dirancang untuk memastikan seluruh lembaga mampu mengelola program secara akuntabel dan berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat,” imbuh Deni.

Sepanjang pelaksanaan bimtek, para peserta tidak hanya dibekali materi teknis pengelolaan administrasi dan keuangan, tetapi juga penguatan soft skill kepemimpinan, inovasi pembelajaran, serta strategi kolaborasi dengan dunia usaha dan industri.

Salah satu peserta, pengelola PKBM dari Kecamatan Cilaku, mengapresiasi agenda ini. Ia menilai bahwa bimtek seperti ini menjadi momentum kebangkitan pendidikan nonformal di daerah.

“Kami tidak hanya diajari cara menyusun laporan, tapi juga diingatkan bahwa PKBM adalah rumah kedua bagi warga belajar. Kami harus mampu menciptakan suasana belajar yang setara, bahkan unggul dibanding sekolah formal,” katanya.

Dengan komitmen kuat dari pemerintah daerah, penguatan kapasitas pengelola, serta dukungan penuh dari FK PKBM, Kabupaten Cianjur optimistis mampu menjadikan pendidikan nonformal sebagai pilar utama pembangunan manusia. Transformasi SPNF menuju Sekolah Berdaya 2026 bukan lagi wacana, melainkan gerakan kolektif yang mulai membuahkan hasil nyata.

Oding/ASNajib