CIANJUR — Di balik hiruk-pikuk dapur di Kampung Kebon Pedes, Desa Peuteuycondong, aroma rempah dan semangat gotong royong menyatu. Di sinilah jantung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Cianjur Peduli Umat berdetak—bukan hanya untuk mengisi perut, tetapi juga menumbuhkan harapan.
Di tengah maraknya industri katering yang kerap mengorbankan kualitas demi margin keuntungan, SPPG ini hadir sebagai oase. Dengan kapasitas produksi 2.700 paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) per hari, lembaga ini tidak hanya melayani puluhan sekolah di Kecamatan Cibeber dan sekitarnya, tetapi juga menjalankan misi sosial terselubung: menyantuni anak yatim secara rutin tanpa publikasi berlebihan.
“Kami tidak mau menjadi sekadar pemasok. Kami ingin menjadi mitra pertumbuhan anak-anak bangsa,” ujar H. Irwan, Kepala Yayasan Cianjur Peduli Umat, saat ditemui di kantornya, Kamis (9/4/2026).
Keunikan utama SPPG ini terletak pada sistem request-based menu. Berbeda dengan penyedia jasa gizi umumnya yang menerapkan paket baku “take it or leave it”, SPPG ini justru menjadikan sekolah sebagai koki konseptor.

Setiap pekan, pihak sekolah diajak berdiskusi: lauk apa yang paling digemari siswanya? Sayuran apa yang tidak membuat anak-anak menyisakan nasi di piring?
“Anak-anak akan lebih bersemangat belajar jika sarapan dan makannya sesuai selera. Asal tetap memenuhi standar gizi, kami fleksibel. Ayam goreng tepung, rolade tahu, hingga tumis buncis—semua bisa diakomodir,” jelas H. Irwan.
Pendekatan ini terbukti menekan angka sisa makanan hingga di bawah 5 persen—sebuah capaian yang sangat jarang dalam program distribusi makanan massal.
Di balik fleksibilitas menu, terdapat standar tak terkompromikan: kualitas bahan baku. Sayuran didatangkan langsung dari petani lokal binaan yang telah diverifikasi bebas pestisida berbahaya. Sementara itu, protein hewani—ayam, ikan segar, hingga telur—melewati uji sampling acak oleh tim internal gizi.
“Kami tidak mau ambil risiko dengan bahan murah tapi substandar. Anak-anak sekolah adalah aset masa depan. Investasi pada gizi mereka adalah investasi pada daya saing bangsa,” tegas H. Irwan dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Dapur SPPG yang dikelola oleh 47 tenaga pengolah bersertifikat higienitas juga menjalani audit internal setiap dua minggu. Tidak ada ruang bagi kuman atau kelalaian.
Namun, yang paling mencengangkan adalah program rutin santunan anak yatim yang dijalankan secara diam-diam. Tanpa konferensi pers, tanpa spanduk, setiap waktu SPPG mengundang puluhan anak yatim dari warga sekitar Kebon Pedes untuk menikmati menu yang sama persis dengan yang dikirim ke sekolah.
Mereka tidak hanya mendapatkan makanan bergizi lengkap, tetapi juga santunan uang tunai dan perlengkapan sekolah baru.
“Kami tidak pernah memungut biaya tambahan untuk ini. Semua dari keuntungan operasional yang kami sisihkan. Biarlah amal jadi rahasia antara kami dan Allah,” ujar H. Irwan dengan mata berbinar, menolak menyebut nominal total yang telah disalurkan sepanjang tahun 2026.
H. Irwan mengakui, SPPG ini tidak didesain sebagai mesin pencetak profit besar. Margin keuntungan sengaja dijaga tipis agar harga paket MBG tetap terjangkau bagi sekolah-sekolah di wilayah kurang mampu. Kelebihan dana yang ada justru dikembalikan dalam bentuk peningkatan kualitas layanan dan perluasan jangkauan santunan.
“Kami ingin membuktikan bahwa bisnis pemenuhan gizi bisa berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. Bukan hanya sekadar transaksi, tapi ada ikatan kemanusiaan di dalamnya,” ujar H. Irwan.
Oding/jib







