CIANJUR, — BAZNAS Kabupaten Cianjur Galang donasi dimalam Cianjur Fest 2026.
Di saat banyak pihak hanya sibuk merayakan kemewahan acara, BAZNAS Cianjur membuktikan keberadaannya bukan sekadar lembaga administratif pengelola zakat, melainkan jantung kepedulian yang berdetak paling cepat ketika saudara sesama anak bangsa jatuh dalam kesulitan.
Di malam puncak perayaan Hari Jadi ke-349 sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan RI, BAZNAS Cianjur mengambil langkah berani: membuka ruang penggalangan dana terbuka tepat di tengah kemeriahan festival.
Bukan untuk kepentingan daerah sendiri, melainkan untuk Nusa Tenggara Timur wilayah yang terpisah ribuan kilometer, namun tetap satu darah, satu bangsa. Langkah ini sekaligus menampar sikap apatis yang sering melanda masyarakat saat mendengar musibah di daerah lain.

Wakil Ketua IV BAZNAS Cianjur, H. Hilman Saukani, M.Pd., dengan tegas menyatakan bahwa jarak bukan alasan untuk berpaling. Justru di momen kebersamaan ini, BAZNAS hadir untuk mengingatkan semua pihak: perayaan kemerdekaan dan hari jadi daerah tidak bermakna jika hati kita masih sempit dan tangan kita masih tertutup bagi sesama.
“Bagi BAZNAS, jarak antara Cianjur dan NTT bukan penghalang. Justru di sini kami tegaskan: rasa persaudaraan tidak mengenal batas wilayah. Ini bukan soal seberapa besar nominal, tapi soal kesadaran dan BAZNAS hadir untuk membangkitkan kesadaran itu. Masyarakat Cianjur tidak tinggal diam, dan itu yang paling berharga,” ujar Hilman Jumat (28/8/2026).
Di bawah koordinasi langsung BAZNAS Cianjur, antusiasme warga meledak. Tanpa paksaan, tanpa janji imbalan, ribuan orang berbondong-bondong menyisihkan sebagian rezekinya membuktikan bahwa ketika lembaga keagamaan bergerak tulus, masyarakat akan mengikuti.
“Sebuah festival tidak boleh jadi sekadar pesta yang melupakan yang lain. BAZNAS hadir di sini untuk mengingatkan: kemewahan perayaan tidak ada artinya jika di tempat lain saudara kita menderita. Kami buktikan bahwa perayaan sejati adalah ketika kita bisa berbagi,” tegas Hilman.
Hasilnya sungguh membuktikan kekuatan yang dimiliki BAZNAS. Hanya dalam satu malam, di tengah keramaian, terkumpul Rp50 juta.
Namun BAZNAS tidak berhenti di situ. Penggalangan masih diperluas melalui jaringan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di seluruh kecamatan, himbauan resmi kepada masyarakat, hingga saluran QRIS yang tetap aktif membuktikan bahwa lembaga ini bekerja secara sistematis, berkelanjutan, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Seluruh dana dikelola secara transparan dan profesional oleh BAZNAS. Tidak ada yang hilang, tidak ada yang disembunyikan. Langsung disalurkan ke NTT dengan mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan sepenuhnya,” janji Hilman.
Aksi ini sekaligus menjawab keraguan yang sering muncul terhadap lembaga pengelola zakat.
BAZNAS Cianjur menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar lembaga yang menunggu uang datang melainkan inisiator, penggerak, dan pengambil langkah pertama.
Di saat pemerintah daerah sibuk menyelenggarakan pesta, BAZNAS hadir mengisi makna yang sering terlupakan: bahwa kemerdekaan dan kemewahan tidak berarti tanpa uluran tangan.
“Dari Cianjur untuk NTT. Pesannya tegas: ketika negara bagian lain menangis, Cianjur tidak tertawa. BAZNAS hadir untuk menyatukan hati dan gotong royong yang kami gerakkan adalah kekuatan yang tak bisa dihancurkan apa pun,” pungkas Hilman.
Di penghujung acara, BAZNAS Cianjur meninggalkan pesan yang jauh lebih berharga daripada seluruh kemeriahan festival: bahwa lembaga keagamaan harus selalu menjadi yang terdepan dalam kepedulian, bukan yang terakhir. Dan di malam itu, BAZNAS Cianjur membuktikannya dengan Rp50 juta, dengan ribuan hati yang bergerak, dan dengan pesan yang bergema hingga ke NTT.
HDs/ar







