Buseronlinenews

Aktivitas Sedot Pasir di DAS Jelai Ancam Hutan Mangrove Sukamara

Buseronlinenews – Rabu (21/1), Di perairan Sungai Jelai yang tepiannya ditumbuhi pepohonan mangrove, tepatnya di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Jelai yang bermuara ke laut lepas di Desa Pulau Nibung, Kecamatan Jelai, Kabupaten Sukamara, Provinsi Kalimantan Tengah, terlihat jelas aktivitas penyedotan pasir.

Pantauan awak media di lokasi menunjukkan adanya sarana fasilitas kerja berupa lanting besar dan kecil, mesin sedot, satu unit tongkang bermuatan pasir hasil sedotan, tiga unit kapal besar, serta satu unit kapal tugboat yang diduga sebagai penunjang usaha tersebut.

Berdasarkan informasi dari salah satu pekerja kru kapal kepada awak media, keberadaan armada dan kru di DAS Jelai saat ini merupakan yang pertama kalinya.

Mereka mengaku sudah berada di perairan tersebut selama tiga minggu. Pekerja tersebut juga menambahkan bahwa tongkang belum bisa ditarik karena muatannya saat ini baru terisi separuh.

Masih di hari yang sama, Jamal, seorang warga Desa Pulau Nibung, menjelaskan kepada awak media bahwa pinggiran DAS Jelai, baik yang masuk wilayah Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Barat, didominasi oleh hutan mangrove. Keberadaan ekosistem ini sangat penting bagi lingkungan sekitar.

Warga Desa Pulau Nibung mengaku tidak mengetahui nama perusahaan yang melakukan penyedotan pasir tersebut.

Menurut Jamal, sejauh ini tidak ada kontribusi nyata bagi desa dari pihak perusahaan, padahal material pasir sudah beberapa kali dibawa keluar dari DAS Jelai menggunakan tongkang.

Jamal menambahkan bahwa sebelumnya warga Desa Pulau Nibung pernah menemui pihak perusahaan agar tidak melakukan penyedotan pasir di lokasi yang mengganggu lalu lintas warga di sungai.

Saat itu, pihak perusahaan sempat menghentikan aktivitasnya dan bergeser menjauh dari lokasi yang dilarang warga. Ia pun menyarankan awak media untuk mengonfirmasi identitas perusahaan dan legalitas perizinannya kepada Kepala Desa setempat.

Senada dengan Jamal, Musbah yang juga warga Desa Pulau Nibung, menyampaikan melalui pesan WhatsApp bahwa permasalahan pasir di ujung hilir yang saat ini ditangani oleh seseorang bernama Andreas, hingga kini belum ada tindak lanjutnya.

Terutama mengenai janji pembayaran dana Corporate Social Responsibility (CSR) kepada masyarakat desa.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Pulau Nibung tidak berada di tempat, baik di kantor Pemdes maupun di kediaman pribadinya.

Kesan yang muncul, Kades seolah menghindari awak media. Belum ada tanggapan resmi dari pihak Kades atas konfirmasi yang telah dikirimkan melalui pesan WhatsApp terkait aktivitas penyedotan pasir oleh perusahaan tersebut.

(Marboen)