Buseronlinenews

Warga Desa Mande Meminta Peternakan Ayam QL Agar Segera Menormalisasi Kembali Kali, Agar Tidak Terjadi Lagi Banjir

Buseronlinenews.com – Ketika berdiri perusahaan, pabrik, peternakan atau apapun bentuknya, pasti positip dan negatiptnya pada masyarakat sekitar akan terasa. Seperti yang dirasakan oleh warga desa Mande, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur. Dimana sejak berdirinya Peternakan ayam QL di desa Murnisari, Kecamatan Mande. Sejak berdirinya perusahaan tersebut di Kp. Nambo RT 05 RW 02 sering mendapat musibah banjir, ini disebabkan karena kali yang tadinya lebar 6 meter jadi diganti menggunakan gorong-gorong kecil, sehingga tidak bisa menampung semua air hujan.

H. Atin salah satu korban banjir di Kp. Nambo RT 05 RW 02 Desa Mande, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur mengatakan,” semenjak adanya peternakan ayam (QL) kampung kami seringkali tertimpa musibah banjir. Alhamdulillah kami sudah pernah mendapatkan bantuan dari pihak peternakan QL sebesar 20 juta rupiah, dan uang tersebut kami gunakan untuk membangun Tembok Penahan Tanah (TPT), dengan tujuan agar bisa menahan air ketika ada hujan. Akan tetapi pada kenyataannya malah lebih parah lagi, banjirnya lebih besar dibandingkan banjir sebelumnya. Terakhir terjadi lagi banjir pada tanggal 14 Oktober 2022, dan ketinggian air mencapai 1 meter lebih. Oleh sebab itu kami minta kepada perusahaan peternakan ayam (QL) supaya menormalisasikan kembali kali tersebut, karena dulu sebelum ada peternakan ayam kali tersebut lebarnya 6 meter, sementara sekarang hanya menggunakan gorong-gorong yang kecil. Jadi kalaupun lebarnya tidak 6 meter lagi, minimal menggunakan gorong-gorong yang lebarnya setinggi orang dewasa. Karena kalau tidak segera dinormalisasi kali tersebut takutnya banjir akan kembali menimpa kami,” kata H. Atin saat dikunjungi Tim Buser, Senin (07/11/2022)

Sementara Suroso selaku Manager Peternakan ayam QL mengungkapkan,” kalau waktu pertemuan kita terakhir kali, memang ada kendala dengan gorong-gorong tersebut, karena hujan besar dan debit airnya tinggi, sehingga air tidak tertampung, ditambah lagi adanya sampah-sampah pohon pisang dan lain sebagainya, yang akhirnya menutupi gorong-gorong. Sebetulnya kami sudah menempatkan orang untuk menangani hal itu, namun pas debit airnya lebih besar tentunya akan luber, ya memang itu karena gorong-gorong tidak sesuai dengan volume. Tapi kita sudah sepakat masalah gorong-gorong, nanti ketika tanahnya sudah diam (tidak labil) akan kita anggkat juga gorong-gorongnya, agar lebih normal. Kemarin juga ketika terjadi banjir kembali pada tanggal 14 Oktober 2022, besoknya pada tanggal 15 kami langsung memperbaikinya, dengan membuat sodetan. Kami akan terus menormalisasi kali tersebut agar tidak terjadi lagi banjir, karena kasihan masyarakat. Kemungkinan juga kita akan bikin lagi gorong-gorong yang sama, jadi ada dua jalur, pokoknya kami akan berusaha terus menerus demi kenyamanan semuanya,” ungkap Suroso.

(najib)