BuseronlineNews.com | KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, Jawa Tengah, terus mematangkan berbagai langkah konkret untuk mengatasi gangguan lalat yang meresahkan warga serta mengganggu aktivitas belajar mengajar di SD 3 Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo.
Guna menjamin kenyamanan serta kesehatan para siswa di dalam kelas, Pemkab Kudus merencanakan pengadaan alat pembasmi serangga (insect killer) yang nantinya akan dipasang di setiap ruang kelas sekolah tersebut.
Langkah tanggap darurat ini diambil setelah Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton, meninjau langsung kondisi SD 3 Bulungcangkring bersama jajaran pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta dinas teknis terkait.
Kunjungan lapangan tersebut dilakukan untuk memantau secara langsung perkembangan penanganan wabah lalat yang diduga kuat bersumber dari aktivitas peternakan ayam di sekitar permukiman warga.
Dalam tinjauannya, Bellinda menyampaikan bahwa populasi lalat di area sekolah maupun permukiman warga sebenarnya mulai menunjukkan penurunan dibandingkan kondisi beberapa hari sebelumnya.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa penanganan tidak boleh mengendur agar populasi serangga tersebut tidak kembali melonjak dan mengganggu aktivitas masyarakat.
“Alhamdulillah, lalat-lalat yang terdampak dari kandang itu sudah berkurang, meskipun belum habis total,” ujar Bellinda saat memberikan keterangan di lokasi.
Ia menambahkan, penurunan jumlah lalat tersebut merupakan buah dari kolaborasi intensif antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pemilik peternakan, dan elemen masyarakat dalam mengaplikasikan langkah penanggulangan.

Di sela-sela peninjauan, pihak sekolah mengusulkan perlunya fasilitas insect killer di tiap ruang kelas sebagai sarana pencegahan utama dalam menjaga higienitas lingkungan belajar.
Pemasangan alat tersebut dinilai sangat krusial, terlebih SD 3 Bulungcangkring merupakan salah satu sekolah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah.
Kondisi lingkungan yang rentan dihinggapi lalat dikhawatirkan dapat mencemari asupan makanan yang disajikan untuk para siswa sekolah dasar tersebut.
“Jangan sampai makanan yang disediakan untuk anak-anak terkena lalat, lalu dikonsumsi dan membuat anak-anak sakit. Untuk mengurangi risiko itu, kami mengusulkan agar setiap kelas dilengkapi insect killer,” jelas Bellinda.
Guna melengkapi keberadaan alat pembasmi serangga, Bellinda juga meminta para guru untuk memperketat pengawasan saat jam pembagian makanan MBG berlangsung. Makanan yang sudah dibuka harus segera dihabiskan oleh siswa agar tidak sempat dihinggapi lalat.
Meskipun hingga saat ini belum ada laporan kasus gangguan kesehatan atau keracunan pada siswa, Pemkab Kudus menegaskan bahwa mitigasi preventif wajib diutamakan demi keselamatan anak-anak.
Mengenai keberadaan peternakan ayam di kawasan permukiman, Bellinda membeberkan bahwa dari total 21 unit kandang yang beroperasi, delapan di antaranya telah resmi ditutup.
Penutupan delapan kandang tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama antara masyarakat yang terdampak dan pemilik peternakan yang lokasinya berdekatan langsung dengan rumah warga.
Sementara itu, sisa kandang lainnya masih dibiarkan beroperasi sementara waktu karena sudah terlanjur diisi oleh bibit ayam, namun pemiliknya diwajibkan kooperatif melakukan penyemprotan disinfektan dan pengontrolan lalat secara berkala.
“Dari 21 kandang, delapan sudah ditutup. Sisanya masih beroperasi karena terlanjur terisi ayam. Pemilik yang tersisa sejauh ini kooperatif dan bersedia diajak bekerja sama untuk menekan populasi lalat,” pungkasnya. ( JIMMY )







