Redaksi berpandangan, politik intrik adalah racun bagi demokrasi internal.
Ketika energi organisasi dihabiskan untuk menyusun siasat, membangun kecurigaan, dan mempersempit ruang pesaing, perebutan kursi Ketua Partai bukan lagi sekadar kompetisi kepemimpinan, melainkan ujian serius bagi integritas organisasi.
Sengkuni menjadi metafora bagi politik yang menjadikan bisikan sebagai senjata, perpecahan sebagai strategi, dan kelemahan orang lain sebagai tangga menuju kekuasaan.
Dalam pola semacam ini, adu gagasan tersisih oleh adu pengaruh, sementara persatuan hanya terdengar manis dalam pidato.
Politik intrik memiliki satu paradoks: pelakunya bisa mengaku ingin menyelamatkan partai, tetapi cara yang ditempuh justru berisiko merusak kepercayaan di dalamnya.
Kader dibuat saling curiga, perbedaan dipelintir menjadi permusuhan, dan pesaing dipandang sebagai ancaman.
Jika pola seperti ini terjadi, siapa yang sesungguhnya diuntungkan—organisasi atau pemburu takhta?
Tentu, setiap dugaan manipulasi, tekanan, atau intimidasi harus dibuktikan melalui pemeriksaan yang objektif.
Namun, prinsipnya tidak boleh ditawar: demokrasi internal tidak boleh dikorbankan demi ambisi siapa pun.
Redaksi menuntut proses pemilihan yang transparan, kesempatan yang setara bagi setiap calon, kebebasan kader menentukan pilihan, serta penegakan aturan tanpa pilih kasih.
Tidak boleh ada ruang bagi praktik yang membuat kader takut bersuara atau merasa hak politiknya bergantung pada kedekatan dengan kelompok tertentu.
Sebab, pemimpin tidak diuji dari kemampuannya menjatuhkan pesaing, melainkan dari keberaniannya berkompetisi secara terbuka.
Kecakapan menyusun strategi adalah bagian dari politik; tetapi ketika strategi berubah menjadi upaya memecah belah, kecerdikan kehilangan kehormatannya.
Ketua Partai bukan ratu.
Kader bukan pion.
Partai bukan kerajaan pribadi.
Sengkuni boleh bermimpi menduduki singgasana.
Namun, jika jalan menuju takhta justru dipenuhi kecurigaan, perpecahan, dan hilangnya kepercayaan, kemenangan itu patut dipertanyakan maknanya.
Jangan sampai intrik menjadi tangga menuju kekuasaan, sementara kader menjadi anak tangga yang diinjak untuk mencapainya.
Partai membutuhkan pemimpin yang menyatukan kekuatan, bukan ahli siasat yang mempertaruhkan keutuhan organisasi demi sebuah kursi.
(Tim)







