KUDUS – Suasana peringatan Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-477 mendadak riuh dan penuh keharuan pada Sabtu (26/9/2026). Sebanyak 670 penari tampil serempak membawakan Tari Caping Kalo di alun-alun kota hingga berhasil mencatatkan rekor dunia dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Pencapaian fantastis ini secara signifikan melampaui target awal panitia yang semula hanya mengagendakan 477 penari sesuai umur kota Kudus. Setelah verifikasi ketat di lapangan, tim MURI mengukuhkan pertunjukan kolosal tersebut sebagai rekor dunia karena berhasil mengangkat simbol budaya lokal yang khas secara masif.
Keberhasilan memecahkan rekor ini sekaligus membuka jalan lebar bagi Caping Kalo untuk melenggang menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional. Langkah diplomasi budaya tersebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat yang hadir langsung dalam perhelatan bersejarah itu.
Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha, menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan telah menerjunkan tim khusus untuk mengawal proses pengajuan Caping Kalo sebagai WBTB nasional. Menurutnya, pengajuan WBTB yang berbasis bottom-up membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah daerah, seniman, dan pengrajin lokal.
Giring menilai penetapan status WBTB harus segera dipercepat mengingat keberadaan pengrajin Caping Kalo yang kini jumlahnya kian menyusut. Melalui program transfer ilmu dari para maestro ke generasi muda, pemerintah optimistis warisan kearifan lokal Kudus ini tidak akan punah dimakan zaman.
Dalam kesempatan yang sama, Giring mengapresiasi kolaborasi lintas sektor antara Pemkab Kudus, PT Noyorono Tobacco Internasional, dan Yayasan Karya Bakti Noyorono. Sinergi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menekankan pentingnya gotong royong melestarikan budaya.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah, Riris Purbasari, menyebut pertunjukan ini bukan sekadar seremoni perayaan, melainkan pembuktian rasa cinta masyarakat Kudus terhadap seni leluhur. Gerakan yang indah dan selaras dari 670 penari menjadi simbol kebangkitan identitas daerah.
Mengapresiasi capaian ini, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan bahwa menjaga kelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Dengan semangat “Urup Nguripi Kudus”, Pemkab Kudus berkomitmen terus mendampingi para pengrajin dan pelaku seni agar Caping Kalo makin dikenal di kancah nasional maupun internasional.
( JIMMY )







