Buseronlinenews

Warga Geruduk Pasar Induk Cianjur, Tuntut Pemecatan Karyawan yang Diduga Hina Ulama

CIANJUR – Puluhan warga yang mengatasnamakan diri sebagai santri dan masyarakat Cianjur, menggeruduk Pasar Induk Cianjur, Kamis (11/6/2026). Aksi tersebut dipicu oleh dugaan pelecehan verbal yang dilakukan oleh seorang karyawan pasar berinisial F terhadap seorang ulama kharismatik, Habib Hud.

Massa yang dipimpin oleh Aang Asep Kunfayakun diterima langsung oleh Kepala Pasar Induk Cianjur, Handika Firdaus, serta Ketua K5 Pasar Induk, H. Ujang Koswara. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Kapolsek Cilaku serta Babinsa Desa Sirnagalih untuk memastikan situasi tetap kondusif.

Dalam audiensi yang berlangsung alot tersebut, massa menyampaikan tuntutan tegas: meminta F—karyawan yang disebut-sebut sebagai pelaku—dihadirkan dan dipecat dari jabatannya. Mereka juga mendesak Kepala Pasar dan Ketua K5 untuk menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Habib Hud.

“F secara pribadi telah menantang Habib Hud, guru kami. Itu tidak bisa ditoleransi. Seolah-olah dia sudah menghina ulama. Kami minta solusi dari kepolisian dan TNI. Kalau Fajar tidak dihadirkan, kami akan bergerak,” tegas Aang Asep Kunfayakun di hadapan para aparat dan pengelola pasar.

Menanggapi gelombang kemarahan massa, Ketua K5 Pasar Induk, H. Ujang Koswara, menjelaskan bahwa pihaknya sudah berusaha mencari F sejak kemarin. Menurutnya, F adalah bagian dari keluarga besar pasar dan K5, dan tindakan oknum tersebut juga sangat disayangkan.

“Kami sudah berusaha menemui F. Bahkan kami mendatangi Habib Hud di Cicariang pada Rabu malam. Namun, kami tidak tahu persis letak rumah F, hanya bisa menghubunginya via telepon,” ujar H. Ujang.

Ia juga menegaskan bahwa pihak pasar memiliki kode etik dan sanksi tegas terhadap karyawan yang berperilaku menyimpang.

“Terkait dengan anggota kami yang berbicara tidak senonoh kepada beliau (Habib Hud), kami memiliki SOP. Teguran lisan keras sudah diberikan. Jika tertulis, itu sudah mengarah ke pemecatan. Tapi kami khawatir muncul masalah baru jika terlalu terburu-buru. Mudah-mudahan setelah hari ini tidak ada lagi masalah baru,” jelasnya.

“Saya katakan, ini hal yang wajar karena para santri itu memang murid-murid beliau. Sebagaimana kalau orang tua kita dilecehkan, kita pasti akan bereaksi. Kami dari kemarin sudah sampai ke rumah Pak Habib, cuma Pak Habibnya ada halangan, akhirnya kami balik lagi ke pasar. Permintaan para asatid itu kami datang lagi ke sana, insya Allah kami datang. Tidak ada niatan buruk dari kami,” tuturnya.

Massa yang sebagian besar mengenakan peci itu menyatakan akan menahan diri sambil menunggu tindak lanjut dari pihak pasar dan aparat. Mereka meminta jaminan keamanan dan proses hukum yang adil, mengingat Habib Hud adalah tokoh agama yang dihormati.

(Oding/Jib)