Buseronlinenews

Bumi Desa Pakis Dilaksanakan Secara Sederhana Tidak Mengurangi Antusias Warga Mengikutinya

PATI – Sedekah bumi merupakan salah satu tradisi leluhur yang masih di laksanakan di Desa SedekahPakis Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati. Acara ini digelar setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan hasil bumi yang melimpah. Bukan hanya sekedar ritual, sedekah bumi juga momentum untuk mempererat silaturahmi antar masyarakat dan untuk menjaga kelestarian adat budaya setempat.

Prosesi di mulai dari sambutan sesepuh desa yang memanjatkan doa-doa keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Mengingatkan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam, bahwa tanah yang mereka pijak, air yang mereka gunakan sehari-hari adalah anugerah yang harus di jaga dan syukuri.

Kehadiran masyarakat dengan berjalan kaki membawa hasil bumi seperti padi, jagung, ketela, buah-buahan untuk di doakan di punden dukuh Dogo bersama-sama sebagai persembahan, simbol rasa syukur dan harapan atas kesuburan tanahtanah, sambil menonton pertunjukkan wayang kulit.

Kepala Desa Pakis melalui Plt Sekdes Sugiyono dalam kesempatan tersebut mengatakan, luar biasa, meski berjalan kaki untuk mengikuti ritual adat ini warga tetap antusias. Ini adalah simbol pengabdian dan penghormatan kepada leluhur.

Rangkaian acara sedekah bumi hari ini, Jumat (15/5/2026) ada campursari di dukuh Mojo, reog di dukuh Jenggolo, pagelaran wayang kulit siang hingga sore di dukuh Dogo dilokasi punden setempat, dan untuk pertunjukan malam sampai selesai di balai Desa Pakis.

Pagelaran ini menjadi hiburan sekaligus sarana untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat melalui cerita yang di bawakan yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang mengajarkan kebijaksanaan, rasa syukur dan pentingnya menjaga keharmonisan dalam hidup.

Menurut Sugiyono, tradisi sedekah bumi di Desa Pakis ini telah berlangsung ratusan tahun dan tetap di jaga hingga kini sebagai warisan budaya leluhur. Kegiatan ini bukan hanya sekedar ritual, tetapi tetapi juga warisan budaya yang mengandung filosofi mendalam tentang rasa syukur, kebersamaan dan keharmonisan menjadi pengingat bagi setiap warga akan pentingnya hidup selaras dengan alam.

Untuk sedekah bumi ini jatuh pada bulan apit, untuk harinya jatuh pada hari Jumat paing, ” ucap Sugiyono

Mereka percaya bahwa dengan menjaga alam dan menghormatinya, hasil bumi akan selalu melimpah dan kehidupan akan menjadi tenteram, aman dan damai.

(hr)