Buseronlinenews

Puluhan Mahasiswa Sebarkan Sampah di Depan DLH Cianjur, Kadis Tidak Muncul saat Aksi

CIANJUR – Aksi protes keras mewarnai kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur, Kamis siang. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) menggelar unjuk rasa dengan membawa serta tumpukan sampah dan membuangnya tepat di depan pintu gerbang kantor DLH.

Tindakan tegas itu sebagai bentuk kemarahan atas buruknya pengelolaan kebersihan dan sistem pembuangan sampah yang dinilai amburadul di Bumi Cianjur.

Namun, puncak kekecewaan terjadi saat para mahasiswa berupaya beraudensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Cianjur. Hasilnya nihil. Sang Kepala Dinas mangkir meskipun pemberitahuan aksi sudah dilayangkan H-3 sebelum pelaksanaan, sesuai prosedur yang berlaku.

Koordinator aksi, Sahrul Ramadan, dengan lantang menyampaikan kegeramannya. Menurutnya, ketidakhadiran pimpinan tertinggi DLH di tengah masalah sampah yang kronis adalah bentuk pelecehan terhadap aspirasi rakyat.

“Kami sangat kecewa. Kepala Dinas tidak hadir sementara penjelasan dari jajaran bawahannya kacau balau, bingung, dan tidak mampu menjawab data secara gamblang. Ini tidak bisa ditoleransi,” tegas Sahrul di hadapan puluhan pendukungnya.

Sorotan utama aksi ini bukan sekadar soal sampah berserakan, melainkan fakta telanjang yang memalukan: Wilayah Cianjur Selatan tidak memiliki satu pun Tempat Pembuangan Sampah (TPS) atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) resmi.

Sahrul membeberkan hasil audiensi singkat dengan Sekretaris DLH yang justru memunculkan pertanyaan lebih besar.

“Dari pengakuan Sekretaris Dinas sendiri, di Cianjur Selatan tidak ada titik pembuangan resmi. Lalu ke mana selama ini warga dan armada pengangkut membuang sampah? Ketika kami tanya apakah ada armada khusus yang membawa sampah dari Selatan ke Kota, jawabannya juga tidak ada. Ini absurd!” teriaknya.

Mahasiswa menilai kondisi tersebut sebagai kegagalan tata kelola lingkungan yang sistematis. Tanpa TPS resmi dan tanpa armada pengangkut, dipastikan sampah-sampah di kawasan selatan Cianjur berakhir liar di sungai, kebun, atau bahkan dibakar sembarangan.

Tak hanya itu, massa juga menyoroti pemandangan memalukan di depan Kantor Pendopo Cianjur. Tumpukan sampah masih terlihat di area tersebut—menandakan bahwa kesadaran kebersihan dan penegakan aturan berada di titik nadir.

“Ini pusat pemerintahan, bukan tempat pembuangan akhir. Kalau saja pemerintah serius, sampah di depan pendopo seharusnya menjadi prioritas pertama. Ini bukti nyata pembiaran,” sindir Sahrul.

Menutup orasinya, Sahrul memberikan ultimatum keras. Apabila dalam waktu dekat tidak ada tanggapan serius dan perbaikan nyata dari DLH serta Pemerintah Kabupaten Cianjur, mahasiswa tidak segan untuk kembali mengguncang ibu kota kabupaten.

“Kami akan datang kembali dengan massa yang jauh lebih banyak, lebih besar, dan lebih keras. Jangan coba-coba menganggap remeh gerakan mahasiswa. Kami akan memastikan persoalan sampah ini tidak berhenti di sini,” ancamnya dengan nada militan.

Menanggapi aksi tersebut, Sekretaris DLH Cianjur, Prihadi Wahyu Santoso, mencoba meredam situasi. Ia mengaku akan menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan dan melaporkannya ke pimpinan.

“Ini masukan yang baik. Nanti akan kami sampaikan sebagian karena belum semua disampaikan. Fokus kami sekarang masih mendiskusikan pola yang bagus seperti apa agar hasilnya maksimal,” ujar Prihadi.

Oding/Jib