Buseronlinenews

PT. GMM Positif Tidak Giling, Janji Tetap Serap Tebu Petani

BuseronlineNews.com // Blora – Pabrik gula (PG) PT. Gendhis Multi Manis (GMM) sudah memastikan diri tidak bisa giling tahun ini, namun berjanji tetap akan menyerap hasil panen milik petani, seperti halnya yang di sampaikan Wakil Bupati Blora Sri Setyorini.

“Sudah jawaban tegas, (pabrik gula PT GMM) tidak giling,” ucap Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini saat ditemui di Todanan, Blora, Senin (13/4/2026).

Hal itu dikatakan Sri Setyorini usai mengikuti dialog antara pihak PT GMM bersama petani tebu di ‘Posko Perjuangan APTRI dan petani tebu Blora’.

Menurut Sri Setyorini pabrik gula PT GMM tidak bisa giling tahun ini karena adanya kerusakan pada mesin. Sedangkan untuk memperbaiki harus melalui dana APBN, mengingat GMM merupakan anak perusahaan dari Perum Bulog.

Dalam pertemuan tersebut, petani menginginkan hasil panen tebu bisa dibeli 100 persen, sesuai harga pemerintah.

“Pada dasarnya para petani menginginkan kepastian harga dari pemerintah untuk hasil panen bulan Mei 2026 di Kabupaten Blora. Kemudian tebu akan terserap seluruhnya,” ucapnya.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APRTI) Blora, Sunoto, mengaku sudah menduga pabrik setop operasional. Namun demikian, pihaknya menuntut agar semua tebu dibeli PT GMM. Tuntutan tersebut sebelumnya sudah disampaikan kepada Direktur Utama Bulog.

“Tuntutan petani ini sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh pak Dirut Bulog. Harga-harga telah disampaikan kepada petani, nanti GMM akan membeli tebu sesuai dengan harga pemerintah,” ucap Sunoto.

Hasil dari dialog tersebut, tebu dari petani Blora nantinya akan dikirim lagi ke pabrik gula lain. Petani tebu menginginkan agar saat menjual ke GMM tidak dibebani ongkos angkut atau franco. Franco dibebankan pada PT GMM.

“Untuk franco-nya dari GMM. Petani cuma mengirim ke GMM. GMM mau mengirim ke pabrik gula mana, itu urusan GMM,” jelasnya.

Sementara itu, calon Direktur Operasional (Dirop) PT GMM, Andin Cholid membenarkan pabrik tidak bisa operasional giling tahun ini. Saat ini pihaknya fokus mencari solusi agar tebu petani bisa diserap.

“Terkait kegiatan operasional PT GMM, pabrik saat ini mengalami kendala sehingga tidak bisa giling. Menanggapi permasalahan tersebut, pemerintah tidak tinggal diam, pihaknya berupaya dalam waktu singkat, bagaimana menyelamatkan tebu petani supaya bisa dipanen.

Direncanakan, tebu dari petani yang dijual ke PT GMM akan dijual lagi ke pabrik gula lain. Namun secara teknis pengiriman, pihaknya belum bisa memastikan.

“Tebu akan dialihkan ke PG (pabrik gula) lain. Hanya saja hari ini, di PT GMM sedang mengupayakan mengenai penerimaan tebu petani yang selama ini digiling di PG GMM bisa diterima di PG yang lain. Teknisnya seperti apa, saya juga belum mendapat informasi,” jelasnya.

Pihaknya belum bisa memastikan, apakah nanti petani mendapat beban ongkos angkut untuk menyetorkan tebu ke PG lain atau tidak. Ongkos angkut dari PT GMM ke PG lain masih menjadi kendala.

“Saya ditugasi Pak Dirut (Bulog), segera menetapkan tebu dari mana diarahkan ke mana. Terkait ada ongkos angkut nanti dibutuhkan berapa, kita belum mendapat kepastian,” terangnya

Petani tidak ingin tebu dibeli dengan harga rendah, sementara pabrik juga tidak ingin rugi. Menyikapi hal tersebut, Andin menjanjikan akan membeli tebu petani sesuai harga pemerintah.

“Terkait harga sesuai dengan acuan pemerintah. Kendala terkait yang menjadi ekstra tambahan ini adalah biaya kirim dari GMM ke PG lain,” tambahnya

Mengenai perbaikan pada mesin pabrik yang rusak, rupanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Perum Bulog sebagai pemilik saham terbesar di PT GMM harus menunggu persetujuan dana dari APBN.

“(Perbaikan) sudah diusulkan ke pemerintah. Menggunakan dana negara itu tidak mudah, butuh proses. Kita pengen GMM bisa pulih lagi. Saya pribadi ‘eman-eman’ (disayangkan) kalau GMM dibiarkan mangkrak,” pungkasnya. ( HR/Wgm).