CIANJUR – Sebuah terobosan revolusioner dalam dunia pendidikan非formal tengah berlangsung di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sarbini, Kecamatan Cugenang. Lembaga ini dengan tegas memutus rantai ketakutan yang selama ini membelenggu para pelajar dalam menghadapi ujian.
Sejak Senin (13/4) hingga Selasa (14/4/2026), sebanyak 31 peserta didik kelas IX Program Kesetaraan SMP mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) gelombang ketiga. Namun dengan sikap tegas, PKBM Sarbini menyatakan: TKA SAMA SEKALI BUKAN PENENTU KELULUSAN.
Kepala Sekolah PKBM Sarbini, Ema Hermawati, dengan lantang menegaskan bahwa tes ini murni bertujuan memetakan kemampuan peserta didik dalam tiga aspek kunci: literasi, numerasi, dan logika.
“TKA ini tujuannya murni untuk mengukur kemampuan akademik peserta didik. Bukan sebagai penentu lulus atau tidaknya,” ujar Ema dengan tegas saat memantau jalannya ujian, Senin (13/4/2026).
Pendekatan berani ini lahir dari pemahaman mendalam bahwa warga belajar PKBM Sarbini memiliki latar belakang kompleks—mulai dari anak putus sekolah yang terpaksa bekerja, ibu rumah tangga yang mengejar mimpi tertunda, hingga remaja yang ingin bangkit dari ketertinggalan.

Ema Hermawati dengan sikap tidak kompromi menyatakan bahwa memberikan ancaman “tidak lulus” kepada mereka adalah BENTUK KEGAGALAN SISTEM.
“Kami ingin mereka datang dengan nyaman. Hasil TKA akan menjadi peta jalan bagi guru-guru kami. Kami petakan: di mana letak kelemahan pemahaman bacaan mereka? Apakah kemampuan berhitung dasarnya sudah cukup? Ataukah cara berpikir logisnya perlu diasah lebih intensif?” paparnya.
Bukti nyata keberhasilan pendekatan ini terlihat jelas di ruang ujian. Tidak ada wajah tegang, tidak ada keringat dingin, tidak ada rasa takut. Para peserta mengerjakan soal Bahasa Indonesia dan Matematika dengan tenang, bahkan sesekali tersenyum.
Salah satu peserta, Asep (17), mengaku merasakan kebebasan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
“Dulu saya putus sekolah karena takut ujian. Sekarang ikut TKA, rasanya seperti sedang latihan soal saja. Saya jadi tahu bagian mana yang belum saya kuasai. Jadi semangat untuk belajar lagi,” tuturnya dengan mata berbinar.
Proktor PKBM Sarbini, Oki Alexander, merinci pelaksanaan tes berjalan dengan tertib dan lancar. Dua sesi diterapkan untuk menjaga efektivitas—25 peserta di sesi pertama dan 6 peserta di sesi kedua.
“Alhamdulillah, berjalan dengan tertib, lancar, dan tanpa kendala berarti. Ini karena sosialisasi kami tekankan bahwa TKA adalah untuk mengukur diri, bukan untuk bersaing,” lapor Oki.
Pengamat pendidikan nonformal dari Universitas Cianjur menilai langkah PKBM Sarbini sangat matang secara konseptual dan tegas dalam implementasinya.
“Seringkali, pendidikan kesetaraan terjebak dalam rutinitas administratif yang mirip dengan sekolah formal, padahal karakternya berbeda. Dengan menggunakan TKA sebagai asesmen diagnostik, PKBM Sarbini menunjukkan pemahaman yang matang tentang hakikat pendidikan orang dewasa (andragogi), yaitu menghargai pengalaman dan mengurangi hambatan psikologis,” ujarnya.
PKBM Sarbini tidak berhenti hanya dengan mengeluarkan nilai. Seluruh hasil TKA akan diolah menjadi kurikulum remedial dan pengayaan yang spesifik sesuai kebutuhan setiap individu. Ini adalah bentuk tanggung jawab moral yang dipegang teguh lembaga tersebut.
Ema Hermawati menutup dengan pernyataan yang menggambarkan visi besarnya:
“Kami tidak hanya mencetak lulusan. Kami ingin membekali mereka dengan kemampuan dasar yang kuat. Bukan sekadar ijazah, tapi bekal untuk berpikir, membaca peluang, dan berhitung dalam kehidupan nyata.”
PKBM Sarbini berencana menjadikan TKA sebagai agenda rutin setiap semester—sebuah komitmen nyata dalam sistem penjaminan mutu internal, demi mencetak lulusan Program Kesetaraan SMP di wilayah Cugenang yang tangguh, bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara kompetensi.
Oding/jib







