CIANJUR – Di tengah derasnya arus informasi digital yang seringkali mengorbankan akurasi di altar kecepatan, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Cianjur membuktikan bahwa profesi wartawan tidak hanya soal ketajaman analisis dan kecepatan menyajikan fakta.
Lebih dari itu, ada denyut kepedulian sosial yang menjadi nadi kemanusiaan. Mengusung semangat Ramadan yang penuh berkah, PWI Cianjur menggelar acara buka puasa bersama yang dirangkai dengan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, Minggu (15/3/2026), di Kantor PWI Kabupaten Cianjur, Jalan Siliwangi.
Suasana khidmat menyelimuti ruangan ketika puluhan anak yatim dan lansia duduk bersila, menerima amplop santunan yang diserahkan langsung oleh Ketua PWI Cianjur, Mohammad Ikhsan, dan tamu kehormatan, Bupati Cianjur, dr. Mohammad Wahyu Ferdian. Di sela-sela kesibukan mengejar deadline dan fakta di lapangan, momen ini menjadi oase yang menyegarkan, sebuah pengingat bahwa di balik setiap berita yang ditulis, ada hati yang mampu berempati.
Acara yang dihadiri oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Rachmat Hartono, beserta jajaran pengurus dan anggota PWI ini, menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ini adalah pernyataan tegas bahwa insan pers hadir sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat.

Dalam sambutannya yang penuh apresiasi, Bupati Wahyu Ferdian menyebut inisiatif ini sebagai bukti otentik bahwa PWI memiliki kepekaan sosial yang tak pernah padam. “Saya, atas nama pribadi dan Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya. Ini adalah cerminan nyata bahwa profesi wartawan tidak hanya berkutat pada kerja-kerja intelektual, tetapi juga aksi nyata kemanusiaan,” ujarnya.
Memanfaatkan momentum silaturahmi perdana pasca dilantik ini, Bupati yang akrab disapa Dokter Wahyu itu menyuarakan kegelisahan mendalam tentang kondisi mediaconsumer saat ini. Dengan nada tegas, ia menyoroti maraknya media sosial dan portal berita abal-abal yang mengabaikan kaidah jurnalistik, mengejar sensasi, dan menyebarkan disinformasi.
“Di tengah gempuran informasi yang tidak jelas asal-usulnya, yang hanya mengejar viralitas tanpa verifikasi, saya optimis rekan-rekan PWI tidak akan tergerus.
Masyarakat pasti tetap mempercayai media yang menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan taat pada perundang-undangan. PWI adalah benteng terakhir informasi yang kredibel,” tegasnya di hadapan para pewarta.
Bupati mengakui, produk jurnalistik yang faktual dari wartawan PWI kerap menjadi sumber informasi penting bagi pemerintah. “Rekan-rekan adalah mitra strategis kami. Informasi yang disajikan menjadi penyeimbang (check and balance) yang konstruktif.
Terima kasih telah menyampaikan apa yang mungkin luput dari pantauan kami. Tugas mulia ini tidak ringan, penuh risiko,” imbuhnya.
Menutup sambutannya dengan doa, Dokter Wahyu berharap seluruh insan pers senantiasa dilindungi dan dimudahkan dalam menjalankan tugas menyampaikan kebenaran.
“Semoga kegiatan berbagi ini menjadi amal ibadah yang diridhoi Allah dan melahirkan generasi penerus yang sholeh dan sholehah,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua PWI Kabupaten Cianjur, Mohammad Ikhsan, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk implementasi tanggung jawab sosial organisasi yang tak terpisahkan dari profesi wartawan.
“Ramadan adalah momentum tepat untuk merekatkan silaturahmi, tidak hanya antarwartawan, tetapi juga dengan pemerintah dan masyarakat.
Kehadiran wartawan bukan hanya saat ada peristiwa, tetapi juga harus hadir dalam kepedulian sosial. Ini adalah wujud nyata dari jurnalisme yang berempati,” ujar Ikhsan.
Menurutnya, di era digital yang serba cepat, nilai-nilai kemanusiaan justru harus menjadi panglima.
“Kami tidak ingin hanya menjadi mesin pencari berita. Kami ingin menjadi bagian dari solusi, hadir di tengah masyarakat dengan hati, tidak hanya dengan pena dan rekaman,” tutupnya.
Acara yang ditutup dengan doa bersama dan santunan itu berhasil meninggalkan pesan mendalam: bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia maya, sentuhan nyata kemanusiaan tetap menjadi kebutuhan utama. Bahwa di balik sosok wartawan yang kritis, ada hati yang hangat berbagi.
Oding/ASNajib







