Buseronlinenews

Kualitas & Kuantitas Pekerjaan P3A Di Desa Cibalung Di Pertanyakan, Warga Keluhkan Dampak Hasil Panen

Bogor – P3A seringkali menjadi mitra pemerintah dalam pelaksanaan program-program irigasi seperti P3-TGAI yang bertujuan meningkatkan dan membangun jaringan irigasi pertanian.

P3A berperan penting dalam mengelola dan memanfaatkan air irigasi di tingkat desa untuk meningkatkan produksi dan ketahanan pangan nasional para pertani setempat.

Desa Cibalung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor menjadi salah satu penerima manfaat program P3A. Dengan alokasi anggaran sebesar Rp195 juta yang bersumber dari APBN 2025, proyek ini resmi berjalan sejak 7 Agustus 2025.
Selama ini, pertanian di Desa Cibalung masih menghadapi keterbatasan akses air irigasi, terutama di musim kemarau. Selain itu, jaringan irigasi yang ada dinilai kurang efisien sehingga produktivitas pertanian menurun. Kehadiran program P3A diharapkan mampu meningkatkan kemandirian petani melalui partisipasi aktif dalam pengelolaan dan pemeliharaan irigasi.

Namun na’as nya saat investigasi hasil di lapangan Kwualitas & kuantitas perkejaan di pertanyakan ? Karena adanya dugaaan yang tidak sesuai dengan standar teknis , pemasangan batu yang di duga tanpa galian atau lantai kerja hanya di geletakan di genangan air , yang jelas tidak sesuai prosedur sesuai teknis di lapangan, sehingan kualitas pekerjaan sangat di tanyakan oleh para petani dan warga setempat , yang mempengaruhi kekuatan dan ketahanan bangunan irigasi tersebut.

Saat dikonfirmasi, Asep, Ketua P3-TGAI Desa Cibalung, menyebutkan bahwa kendala di lapangan salah satunya terkait keberadaan pohon warga yang tidak boleh ditebang. “Itu sudah saya sampaikan, hanya saja yang kerja kan saya juga sibuk di kebun,” ujarnya sambil tersenyum.

Sementara itu, Dodi, selaku kontraktor, mengakui adanya kekurangan dalam pengerjaan awal. “Itu memang tanggung jawab saya. Saya sudah bilang ke pekerja agar gali dulu pondasinya sekitar 30 cm supaya kuat. Mungkin karena kurang kontrol di lapangan, hasilnya jadi begitu. Sekarang sudah saya minta diperbaiki,” jelasnya.

Warga setempat, Berinisial ( E ) dengan sapaan nya menilai pentingnya musyawarah sebelum proyek dilaksanakan. “Harusnya kalau ada program pemerintah, rembukan dulu dengan warga, terutama petani. Supaya jelas, pohon yang menghalangi bisa diatur dan irigasi dibuat lebih kokoh. Kalau pondasinya kuat, air bisa lancar dan warga sekitar tidak kebanjiran,” ungkapnya.
Program P3A sejatinya menjadi sarana pemberdayaan petani sekaligus penguatan ekonomi domestik berbasis pertanian. Namun, pengawasan dan transparansi dalam pelaksanaan sangat penting agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat desa.

( HAM )