Bupati Hartopo Serukan Santri Jadi Motor Penggerak Anti Radikalisme di Masyarakat

banner 468x60

KUDUS – Safari pondok pesantren kembali dilakukan Bupati Kudus Hartopo. Di depan puluhan santri Pondok Pesantren Daarusy Syifa Al-Islam Desa Ploso Kecamatan Jati, dirinya menjelaskan peran strategis santri di tengah-tengah masyarakat. Terutama dalam mencegah paham radikalisme .

“Sebagai seorang ahli agama, santri harus berperan aktif di masyarakat. Terutama menangkal pendekatan-pendekatan paham radikal,” ucapnya.

Saat membuka Optimalisasi Peran Santri dalam Antisipasi Radikalisme, Kamis (21/7) malam, Hartopo menjelaskan perlunya transfer ilmu kepada masyarakat. Dawuh kyai dan bacaan kitab selama mondok perlu disebarluaskan untuk menangkal radikalisme. Terutama, perihal agama Islam mengajarkan kebaikan dan toleransi kepada sesama

“Perlu digarisbawahi radikalisme bukan ajaran agama Islam. Ajaran agam Islam adalah toleransi dan berbuat baik kepada sesama,” tegasnya.

Merespon pertanyaan salah satu santri tentang pendirian negara Islam, bupati meminta santri untuk bijaksana. Pemimpin harus menjaga perdamaian suatu negara termasuk kaum minoritas maupun pemeluk agama lain. Sikap toleransi tersebut dicontohkan Rasulullah dalam Piagam Madinah.

“Rasulullah menginisiasi Piagam Madinah agar seluruh warga baik muslim maupun pemeluk agama lain bisa hidup berdampingan,” ucapnya.

Wakil Ketua DPRD Kudus Mukhasiron setuju dengan pernyataan bupati. Menurutnya, radikalisme adalah virus yang mendistorsi agama. Radikalisme bukan ajaran agama Islam. Sehingga vaksinnya perlu datang dari ajaran agama pula. Santri harus bisa jadi penggerak strategis agar perbedaan di masyarakat disikapi secara bijaksana.

“Kebanyakan radikalisme datang dari seorang yang mengkafirkan atau memusuhi orang yang berbeda pendapat. Seorang santri pasti paham perbedaan karena sudah jadi kebiasaan di pondok pesantren,” terangnya.

Begitu pula Ketua PCNU Kudus Asyrofi Masyitho yang sependapat pentingnya santri mengantisipasi paham radikalisme dalam masyarakat. Pasalnya, ilmu pengetahuan agama dari pondok pesantren sangat kuat dan bisa mengajak masyarakat tak mudah disusupi paham radikal.

“Santri sudah digembleng di pesantren untuk mendalami agama Islam. Kini saatnya mengamalkan pengetahuan di tengah-tengah masyarakat,” terangnya.

Sosialisasi di Pondok Pesantren Daarusy Syifa Al-Islam itu menjadi penutup rangkaian sosialisasi pencegahan radikalisme oleh Kantor Kesbangpol Kudus. Beberapa undangan hadir termasuk pengasuh Ponpes Daarusy Syifa Al-Islam KH. Nasyruddin Abdullah, Camat Jati Fiza Akbar, dan Khifni Nasif sebagai moderator.

( JIMMY )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.