Polres Kudus Larang Sepeda Listrik Beroperasi Di Jalan Raya

KUDUS- Polres Kudus melarang sepeda listrik beroperasi di jalan raya karena jelas tidak sesuai peruntukannya. Pelarangan itu telah diatur melalui Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomer 45 Tahun 2020, tentang kendaraan jenis tertentu dengan penggerak utama listrik. Hal itu dikemukakan Kasat Lantas Polres Kudus, AKP Ivan Prabowo, Selasa (19/7).

Dalam aturan itu, pengguna sepeda listrik harus memakai helm, dan usia pengendara minimal 12 tahun sehingga jika di bawah itu tidak diperbolehkan. . Selain itu tidak boleh ada penumpang di belakang kecuali tersedia kursinya. “Yang terpenting sepeda listrik operasinya tidak boleh di jalan raya. Penggunaanya hanya dijalan- jalan tertentu yang diizinkan,” tegasnya.

Mulai bertambahnya penggunaan sepeda listrik terjadi ketika masa pandemi beberapa waktu lalu. Ketika para siswa sudah mulai belajar offline, sebagian orang tua tidak lagi mengantar anaknya ke sekolah. Pelajar yang bahkan berusia kurang dari 12 tahun dibelikan sepeda listrik untuk moda transportasi ke sekolah. Memang jumlah pengguna sepeda listrik di “Kota Kretek” belum begitu banyak, namun upaya pencegahan agar tidak beroperasi di jalan raya terus dilakukan. Tidak hanya terhadap- anak- anak, tetapi kepada ibu- ibu yang juga menjadi pengendara.

Pihaknya hingga saat ini belum melakukan penindakan. Langkah awal yang diambil yaitu melalui tahap sosialisasi ke sekolah- sekolah, pemerintah desa melalui perangkatnya, tindakan lisan jika ditemui pelanggaran di jalan, hingga pemberitahuan kepada orang tua. Setidaknya butuh waktu sekitar dua bulan untuk sosialisasi, setelah itu dilakukan evaluasi perkembangan animo penggunanya.

“Kami juga akan menyebar selebaran (leaflet), membuat pengumuman untuk ditempel di sekolah- sekolah bekerjasama dengan Dinas Kependidikan dan Olah Raga (Disdikpora). Selain itu, kepada keluarga, orang tua, kepala desa dan perangkatnya, serta pengurus RT untuk bisa saling mengingatkan,” pintanya.

Sekali lagi, pihaknya menekankan agar penggunaan sepeda listrik di jalan raya terutama bagi anak- anak, sebaiknya tidak dilakukan karena melanggar aturan dan sangat berbahaya. Penggunaan di lingkungan perkampungan pun harus dilihat apakah lokasi itu ramai dengan lalu lalang kendaraan atau tidak. Sepeda listrik hingga saat ini diketahui belum ada safety atau standar keamanannya. Maka harus dibedakan antara sepeda listrik dengan motor listrik.

Kecepatan epeda listrik tidak boleh melebihi 25 kilometer per jam. Di atas kecepatan itu dimasukkan dalam kategori motor listrik. Sedang motor listrik sendiri harus ada uji tipenya, untuk memastikan kendaraan itu aman dipakai di jalan. Artinya, aman untuk keselamatan pengendara dan pengguna jalan lainnya.

“Kita akan lihat di lapangan. Kalau nekat beroperasi di jalan raya kami akan melakukan tindakan sesuai peraturan yang ada. Untuk saat ini pola penindakannya masih kami diskusikan dan menunggu instruksi Polda,” katanya.

Sejauh ini yang dilakukan di Kudus sasarannya masih sosialisasi dan penindakan lisan. Meski jumlah sepeda listrik masih sedikit, pihaknya tetap melakukan antisipasi dengan sosialisasi lebih awal. Tak hanya sepeda listrik, pemakaian skuter listrik yang banyak disewakan di arena permainan, belakangan diketahui penggunaannya tidak hanya di lingkungan terbatas namun mulai dikendarai di jalan raya.

“Pemilik dan pengguna skuter listrik juga menjadi sasaran sosialisasi. Kalau mereka tetap bandel, tentu kami akan melakukan tindakan sesuai aturan yang ada,” tandasnya. ( JIMMY )…

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.