SDN 6 Terban Yang Pernah Menelan Korban Siswa Kejatuhan Plafon Beberapa Waktu Lalu, Mulai Diperbaiki, Rabu (18/5/2022)

banner 468x60

KUDUS – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus tengah melaksanakan perbaikan sekolah rusak yang mengalami kerusakan sedang dan berat. Salah satunya di SD 6 Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus.

Perbaikan yang dilakukan di SD 6 Terban meliputi perbaikan atap lapuk dan dinding sekolah yang hampir roboh pada tiga lokal kelas. Perbaikan tiga lokal ini menggunakan anggaran dari APBD Perubahan 2022 sebesar Rp 180 juta.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Moch Zubaedi mengatakan perbaikan sekolah rusak di SD 6 Terban sudah dilaksanakan sejak 20 April 2022 dan ditargetkan rampung pada awal Juni 2022.

“Perbaikan ini dimulai sebelum lebaran. Karena saat lebaran tukangnya libur semua, jadi dilanjut sekarang. Kalau ini, nanti pelaksanaannya 60 hari, tidak sampai sebulan, nanti akan rampung,” ungkapnya saat memantau perbaikan sekolah di SD 6 Terban pada Rabu (18/5/2022).

Tak hanya di SD 6 Terban, sebelum lebaran sebanyak 20 sekolah juga dilakukan perbaikan. Perbaikan pada 20 sekolah itu meliputi perbaikan sedang dan berat seperti perbaikan atap, perbaikan lapangan upacara untuk dipaving, dan lainnya.

“Yang masuk prioritas, sekolah rusak berat sudah tercover semua. Memang ada usulan baru yang masuk, tetapi karena sudah pembahasan perubahan, jadi untuk usulan yang baru masuk alokasinya di perubahan anggaran besok,” tuturnya.

Zubaedi mengungkapkan dari total 110 sekolah rusak yang diperbaiki tahun 2022 ini, diperkirakan akan rampung pada awal Agustus 2022. Sebab, setiap perbaikan per paketnya dihitung 60 hari kalender.

Terkait sekolah rusak, pihaknya mengatakan jika Disdikpora Kudus selama ini sudah pro aktif dan selalu melakukan survei ke lapangan ketika ada sekolah yang mengalami kerusakan baik sedang ataupun berat.

Akan tetapi, pihaknya menghimbau kepada pihak sekolah untuk ikut pro aktif dan jika sekolah mengalami kerusakan untuk segera melaporkan kepada pihak Disdikpora ataupun melalui koordinator wilayah setempat.

“Kalau survey kan acak, jadi sekolah harus pro aktif melaporkan juga,” tandasnya.

( JIMMY )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.