Raih Adiwiyata Mandiri dari Pengolahan Limbah Cucian Tangan

KUDUS – Belum lama ini, SMP 1 Jati berhasil menyabet gelar Sekolah Adiwiyata Mandiri dari Kementrian Lingkungan Hidup. Setelah dua kali gagal mendapatkan gelar tersebut di tahun 2016 dan 2018.

Plt. Kepala SMP 1 Jati, Suhartono mengatakan anugerah Sekolah Adiwiyata Mandiri ini merupakan buah dari perjuangan pihaknya sejak memutuskan maju sebagai sekolah berbasis lingkungan di tahun 2012 lalu. Pasca dinobatkan sebagai sekolah Adiwiyata Kabupaten di tahun 2013, SMP 1 Jati berhasil meloloskan diri menjadi sekolah Adiwiyata Provinsi di tahun 2014 dan meraih penghargaan sekolah Adiwiyata Nasional di tahun 2015.

“Prosesnya memang bertahap, dari Kabupaten merangkak ke Provinsi ke Nasional. Hingga ditetapkan sebagai sekolah Adiwiyata Mandiri,” jelansya.

Kepada Lingkar Jateng, Suhartono mengatakan ada beberapa inovasi pendidikan lingkungan yang berhasil menghantarkannya meraih gelar Adiwiyata Mandiri. Salah satunya, pengolahan air limbah cuci tangan (tanpa sabun) yang digunakan untuk budidaya lele.

“Sebenarnya untuk budidaya lele telah kami lakukan sejak lama. Sedangan untuk inovasi ini sudah berjalan selama empat tahun,” terang dia.

Menurut dia, ide pemanfaatan air cucian tangan untuk budidaya lele merupakan penemuan tidak senaja yang dilakukan oleh beberapa guru sekolahnya. Setelah melihat banyak debit air yang digunakan siswa untuk mencuci tangan dan harus terbuang sia-sia ke selokan.

“Dari pada terbuang sia-sia lebih baik digunakan untuk mengairi kolam lele. Terlebih air ini tidak mengandung senyawa kimia, jadi akan tidak berdampak pada lele-lele yang dibudidayakan,” lanjutnya.

Benar saja, inovasi tersebut sukses mengurangi debit air limbah yang dihasilkan dari kegiatan cuci tangan oleh siswa. Dan memaksimalkan kegiatan budidaya lele di SMP 1 Jati, hingga berkali-kali panen dalam setahun.

Meski beberapa bulan ini, usaha budidaya lele di SMP 1 Jati harus fakum karena adanya pembangunan di dekat area kolam. Suhatono berharap inovasi ini dapat menginspirasi para siswanya untuk terus berkreasi. Utamanya dalam mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai lebih.

“Progam ini bukan sekedar untuk memenangkan penghargaan Adiwiyata Mandiri. Tetapi lebih pada pendidikan karakter berbasis lingkungan kepada siswa. Untuk membangun generasi muda yang peduli dan berbudaya lingkungan,” pungkas dia.

Rilis : (Jimmy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *